59 tahun, Bank Jatim perkuat inovasi dan kolaborasi

Jum'at, 21 Agustus 2020 | 11:15 WIB ET

SURABAYA – Menginjak usia yang ke-59 tahun, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) telah cukup lama melewati berbagai kondisi zaman dengan era tantangan dan peluang yang berbeda.

Termasuk, tantangan era teknologi hingga pandemi Covid-19 telah memantapkan Bank Jatim untuk mengangkat tema HUT ke-59 yakni ‘Bank Jatim Super Team’ dengan harapan memiliki personel kuat dan solid dalam mengatasi masalah dengan baik hingga tetap tumbuh secara berkelanjutan.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan Bank Jatim harus mendorong cabang-cabang agar memiliki konsep super team sehingga mampu menghadirkan inovasi dan kreativitas.

"Saya ingin ajak Bank Jatim Super Team membangun tekat kuat. Hari ini eranya bukan kompetisi tapi kolaborasi, maka bangunlah kolaborasi sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya dan sekuat-kuatnya karena format sinergi kolaborasi menjadi sebuah kebutuhan," katanya dalam sambutan HUT ke-59 Bank Jatim, Selasa (18/8/2020).

Khofifah juga berpesan agar Bank Jatim aktif menyisir sektor ultra mikro, mikro, kecil dan menengah untuk membantu akses permodalan mengingat 54% PDRB Jatim digerakkan oleh sektor UMKM.

"Hari ini UMKM butuh tangan dingin Bank Jatim untuk menyapa mereka dan memberi pendampingan, akses, dan membantu meningkatkan nilai tambah, agar mereka bisa petik, olah, kemas, jual," ujarnya.

Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman mengakui, setiap era memiliki tantangannya sendiri, begitu juga bagi sektor perbankan saat ini dituntut untuk melakukan cara dan metode pelayanan yang kekinian dengan prospek ke depan.

 “Ke depan, berbagai aspek kehidupan itu akan berbasis digital. Mau tidak mau Bank Jatim harus bertranformasi seperti bersinergi dengan kompetitor maupun financial technology (fintech), jadi kita harus bertransformasi ke arah digital, yang kekinian,” jelasnya.

Dia menambahkan Bank Jatim sendiri sudah bersinergi dengan beberapa fintech, serta memperkuat jaringan bisnis serta fitur-fitur produk yang berbasis digital. Bahkan sejauh ini sudah tampak ada peningkatan penggunaan layanan digital dibandingkan datang langsung ke kantor dengan layanan tatap muka.

Sejumlah layanan digital yang menjadi unggulan di antaranya adalah e-channel, m-banking, internet banking, Jatimcode, hingga yang terbaru e-form untuk pengajuan kredit nasabah secara daring dan kredit multiguna elektronik (e-kmg) bagi ASN dan pensiunan.

Busrul juga mengatakan bahwa kondisi pandemi seperti saat ini bukan menjadi alasan perseroan untuk putus asa. Sebagai bank daerah yang punya visi misi menjadi bank BPD nomor 1 di Indonesia, Bank Jatim perlu mengakselerasi bisnis secara kuantitas dan kualitas.

“Untuk itu, pandemi ini sebetulnya adalah kesempatan kita untuk konsolidasi ke dalam, membenahi policy dan human capital, dan upaya-upaya kebijakan efisiensi serta pengembangan teknologi. Saya optimistis sekali soal ini,” imbuhnya.

Meski begitu, tambah Busrul, tidak bisa dipungkiri Bank Jatim tetap melakukan koreksi rencana bisnis bank (RBB) tahun ini sebagai dampak pandemi. Target pencapaian aset tahun ini pun diperkirakan turun 1% - 2 persen, sedangkan kinerja kredit yang awalnya ditargetkan tumbuh 14 persen, tetapi dikoreksi tumbuh hanya 6 – 8 persen.

“Sementara kinerja Dana Pihak Ketiga (DPK) yang sebelumnya diprediksi double digit, nanti perkiraan tumbuh sekitar 4 – 6 persen, begitu juga dengan kinerja laba juga ada koreksi,” imbuhnya.

Kredit UMKM

Busrul mengatakan Bank Jatim sebagai bank daerah juga berkomitmen menjadi bank yang bisa menggerakkan perekonomian daerah, salah satunya adalah melalui penyaluran kredit UMKM yang saat ini kontribusinya masih sekitar 10 persen dari total kinerja kredit.

“Potensi Jatim dari sisi pelaku UMKM sangat besar, artinya kita sebagai bank daerah punya peluang sehingga kami punya konsep untuk memperbanyak kontribusi UMKM paling tidak bisa 20 persen,” ujarnya.

Bank Jatim, katanya, telah memetakan potensi UMKM yang bisa memanfaatkan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari pemerintah pusat sebesar Rp2 triliun. Nantinya pemanfaatan ‘dana titipan’ ini akan terbagi menjadi 2 pola penyaluran yakni secara direct loan dan step loan.

Pertama penyaluran langsung dari Bank Jatim dan Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Jatim kepada nasabahnya atau direct loan, dan yang kedua step loan yakni menggandeng BPR, koperasi, pondok pesantren serta asosiasi bisnis.

“Skim kreditnya akan disalurkan mulai komersial, ritel, mikro dan konsumtif. Karena ketentuan jangka waktunya pendek hanya 6 bulan, jadi kami harus betul-betul mengukur, mungkin yang lebih tepat kredit ini untuk modal kerja jangka pendek, seperti UMKM, dan ritel komersial,” jelasnya.

Menurut Busrul, dalam penyaluran dana PEN pun dibutuhkan kesiapan dari pihak bank maupun masyarakat yang menyerap. Bank, katanya, harus mengukur juga kemampuan daya beli masyarakat mengingat kondisi pertumbuhan ekonomi Jatim di kuartal II mengalami kontraksi.

“Namun kami berharap dari alokasi Rp2 triliun, dalam perputarannya bisa menghasilkan Rp4 triliun sehingga pertumbuhan kredit kita dimungkinkan bisa lebih tinggi dari RBB, walaupun relatif tidak setinggi saat sebelum Covid-19,” imbuhnya.

Sementara untuk kredit korporasi, Bank Jatim mengakui ada sedikit kendala akibat adanya penundaan proyek konstruksi/infrastruktur, apalagi pemerintah melekukan refocusing APBN/APBD yang mempengaruhi belanja modal di daerah masing-masing.

“Jadi sektor koperasi kita ada sindikasi yang sementara waktu mengalami penjadwalan ulang, sehingga proyeknya mundur,” imbuhnya.

Bagikan artikel ini: