KPR Syariah tetap tumbuh positif di tengah pandemi

Kamis, 27 Agustus 2020 | 11:45 WIB ET

JAKARTA - Perkembangan positif perbankan syariah sejalan semakin besarnya minat masyarakat memiliki rumah memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) syariah, dimana pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan KPR konvensional yang tumbuh single digit. Tren meningkatnya KPR syariah di tengah penurunan harga properti dan melimpahnya pasokan.

"Hasil survei Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2020 menyatakan terjadi kenaikan preferensi konsumen untuk memilih KPR syariah menjadi 35 persen responden pada semester II-2020 dari sebelumnya 29 persen responden pada semester I-2020. Sebaliknya peminat KPR konvensional turun dari 37 persen responden pada semester I-2020 turun menjadi 29 persen responden pada semester II-2020," kata Country Manager Rumah.com Marine Novita, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (27/8/2020).

 

Rumah.com Consumer Sentiment Study ini diperoleh berdasarkan 1.007 responden dari seluruh Indonesia yang dilakukan pada Januari hingga Juni 2020.

Data perbankan juga menunjukkan tren positif KPR Syariah. Bank Mandiri Syariah mencatat pembiayaan KPR syariah pada Juni 2020 tumbuh 11,8 persen (year-on-year/yoy). Sementara BNI Syariah pada kuartal II-2020 mencatatkan pembiayaan KPR syariah Rp 13,81 triliun atau tumbuh 11,10 persen secara tahunan. Sedangkan Unit Usaha Syariah (UUS) BTN mencatat pertumbuhan pembiayaan KPR di segmen non-subsidi 12,46 persen secara tahunan menjadi Rp 8,1 triliun per Juli 2020 dan segmen subsidi sebesar 7,3 persen (yoy) menjadi Rp 12,32 triliun per Juli 2020.

KPR syariah menjadi preferensi responden Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2020 dengan alasan utama karena kepastian besaran cicilan bulanan (fixed rate) yang dinyatakan oleh 74 persen responden. Angka ini naik dari 69 persen responden pada semester I-2020. Sementara mereka yang memilih KPR syariah dengan pertimbangan keyakinan agama sebesar 70 persen responden atau naik sebesar 1 persen dari semester sebelumnya.

Berdasarkan penghasilan, konsumen berpenghasilan rendah mayoritas memilih KPR syariah atau sekitar 40 persen responden dibandingkan KPR konvensional sekitar 25 persen responden. Sementara kelompok berpenghasilan sedang dan tinggi cenderung memilih KPR konvensional yaitu masing-masing 37 persen dan 34 persen responden dibandingkan KPR syariah dengan persentase masing-masing 31 persen responden dan 28 persen responden. "KPR syariah cenderung lebih diminati generasi muda dimana 37 persen responden yang berusia 22-29 tahun dan 36 persen responden 30-39 tahun dibandingkan KPR konvensional," kata dia.

Marine menambahkan saat ini pasar properti sedang mengalami penurunan harga dan kenaikan suplai, oleh karenanya pengembang melakukan koreksi harga untuk menarik konsumen dengan suku bunga rendah, pilihan properti lebih banyak, dan daya tawar lebih tinggi.

Rumah.com Indonesia Property Market Index Q2 2020 menunjukkan kenaikan suplai properti hampir merata di semua wilayah Indonesia yang menjadi indikasi optimisme penyedia suplai properti. Pengembang lebih optimistis dengan situasi pada kuartal II-2020. Setelah pada kuartal sebelumnya menahan diri untuk meluncurkan unit-unit baru, pada kuartal ini pengembang mulai menghadirkan suplai baru.

Rumah.com Indonesia Property Market Index – Suplai Q2 2020 berada pada angka 131,6 atau naik sebesar 21 persen (quarter-on-quarter/qoq) dan 46 persen (yoy). Sementara Rumah.com Indonesia Property Market Index – Harga Q2 2020 mencatat indeks harga berada pada angka 110,6 atau turun 1,7 persen dari kuartal sebelumnya. Secara tahunan, indeks masih menunjukkan kenaikan sebesar 2,3 persen.

Pandemi yang mulai merebak di akhir kuartal I-2020 membuat pengembang melakukan penyesuaian dengan menahan suplai. Hal ini membuat tren suplai yang biasanya meningkat pada setiap kuartal ganjil (Q1 dan Q3) justru mengalami penurunan pada kuartal I-2020. Namun, tanda-tanda kepercayaan pengembang terhadap situasi pasar mulai terlihat sepanjang kuartal II-2020, di mana suplai properti nasional meningkat.

Marine menjelaskan proses adaptasi kebiasaan baru berjalan lancar. Sejumlah pengembang tetap mampu mencatatkan keuntungan. Beberapa bahkan tak ragu melakukan peluncuran proyek hunian baru. Hal ini yang membuat tren suplai properti meningkat pada kuartal kedua ini. “Dari sisi harga, penyedia suplai hunian (penjual dan pengembang) masih melakukan penyesuaian. Pengembang saat ini memilih mengejar kuantitas jualan ketimbang keuntungan," tambahnya.

Bagikan artikel ini: