Buruh minta upah 2021 naik 8% di tengah pandemi, ini alasannya

Minggu, 6 September 2020 | 11:11 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Di tengah perekonomian yang masih terpuruk akibat terdampak pandemi Covid-19, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) meminta pemerintah menaikkan Upah Minimum Kabupaten atau Kota (UMK) dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten atau Kota (UMSK) tahun 2021 sekurang-kurangnya sebesar 8%.

Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan, kenaikan sebesar 8% tersebut, setara dengan kenaikan upah minimum dalam tiga tahun terakhir.

"Walaupun pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi minus dalam dua kuartal terakhir, tetapi daya beli masyarakat harus tetap dijaga. Dengan demikian, adanya inflasi harga barang tetap terjangkau dengan adanya kenaikan upah yang wajar," kata Iqbal dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2020).

Iqbal menambahkan, dengan kenaikan upah minimum sekurang-kurangnya 8% tersebut, dapat menjaga daya beli masyarakat, sekaligus sebagai upaya untuk melakukan recovery ekonomi.

"Dalam situasi seperti sekarang ini, ekspor belum bisa diharapkan. Oleh karena itu, untuk menjaga agar recovery ekonomi tetap terjadi, yang harus dilakukan adalah meningkatkan nilai konsumsi dengan cara meningkatkan kenaikan upah minimum tahun 2021," tegas dia.

Iqbal membandingkan dengan apa yang terjadi pada tahun 1998, 1999, dan 2000. Sebagai contoh, di DKI Jakarta, kenaikan upah minimum dari tahun 1998 ke 1999 sekitar 16%, padahal pertumbuhan ekonomi tahun 1998 minus 17,49%.

Begitu juga dengan upah minimum tahun 1999 ke 2000, upah minimum tetap naik sekitar 23,8%, padahal pertumbuhan ekonomi tahun 1999 minus 0,29%.

"Jadi tidak ada alasan upah minimum tahun 2020 ke 2021 tidak ada kenaikan, karena pertumbuhan ekonomi sedang minus," tambahnya.

Menurut dia, dengan kebijakan kenaikan upah saat itu meskipun pertumbuhan ekonomi sedang minus, terlihat dampak positifnya di mana konsumsi tetap terjaga. "Jadi bukan hal yang baru, ketika ekonomi minus, upah tetap dinaikkan," pungkas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: