Hallmar Business School siap cetak 1000 entrepreneur baru di Indonesia

Rabu, 9 September 2020 | 23:08 WIB ET
Dari kanan; Managing Director Hallmar Business School Michael Adiwijaya, Founder of DBL Indonesia Azrul Ananda, dan Academic Director Hallmar Business School, Kim Pan Seung.
Dari kanan; Managing Director Hallmar Business School Michael Adiwijaya, Founder of DBL Indonesia Azrul Ananda, dan Academic Director Hallmar Business School, Kim Pan Seung.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Masih rendahnya jumlah entrepreneur alias pengusaha di Indonesia menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Di tengah upaya untuk mendorong munculnya pengusaha baru, ekonomi terhempas pandemi Covid-19.

Namun demikian, semangat untuk menciptakan pengusaha baru tetap harus didorong, agar rasio pengusaha lokal dengan jumlah penduduk tak menyusut akibat ancaman krisis ekonomi.

Upaya itu pula yang kini dilakukan Hallmar Business School, sebuah institusi pendidikan yang siap mencetak entrepreneur baru, yang baru berdiri di Surabaya, tepatnya di kawasan Royal Residence Surabaya.

Managing Director Hallmar Business School, Michael Adiwijaya mengatakan, jumlah pengusaha di Indonesia jauh lebih rendah dibanding negara lain, seperti Singapura, Korea, Jepang, bahkan Malaysia. Untuk bisa mencapai jumlah pengusaha sebesar 5 persen dari jumlah penduduk, ucap dia, Indonesia butuh sekitar 4 juta pengusaha baru.

"Efeknya, jika ada pengusaha baru akan membuka lapangan kerja, supply chain, sehingga bisa menggerakkan ekonomi," katanya di sela soft opening Hallmar Business School, Rabu (9/9/2020).

Guna mewujudkan hal itu, pihaknya berkomitmen untuk menciptakan 1000 pengusaha baru melalui program yang diberikan, dengan menggandeng kalangan praktisi pengusaha langsung, asosiasi, hingga investor.

"Kita bimbing untuk ajarkan business plan hingga produk jadi dan pemetaan pasar. Ketika tahap akhir, kita ada semacam investor forum dengan mengundang investor dan di hadapan mereka para siswa bisa presentasi business plan dan sebagainya, sehingga ada jaminan dari sisi permodalan usaha, transfer teknologi, dan kemitraan penjualan. Jadi lulus dijamin jadi pengusaha," ujar Michael.

Dikatakannya, dengan waktu pembelajaran hanya 1 tahun, Hallmar membawa 3 program yang banyak digandrungi anak muda, mulai Footwearpreneur (menjadi pengusaha alas kaki), Food and Nutrition Entrepreneur (menjadi pengusaha makanan yang mengadopsi unsur gizi dan nutrisi), dan Creative Digital Entreprenuer (menjadi pengusaha kreatif di dunia digital).

Academic Director Hallmar Business School, Kim Pan Seung menuturkan, selama ini perusahaan di Indonesia hanya mencari karyawan yang berpengalaman, sehingga tak banyak pekerja baru yang terserap.

"Sementara ketika merekrut fresh graduated mereka kita ajari dengan pelatihan, dan ketika pintar pindah kerja," ulasnya.

Oleh karena itu, pihaknya menghadirkan Hallmar Business School untuk mengubah mindset masyarakat, bahwa teori tak banyak menjamin siswanya. Taknheran, selain akan banyak praktek langsung, pihaknya menggandeng sejumlah pihak, seperti Ardiles, Ortus Eight, 910, PT Stars International, PT Nutrifood Indonesia, serta adanya kemitraan kerjasama dengan Aprisindo (Asosiasi Persepatuan Indonesia) dan Apkrindo (Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia). Pihaknya juga menggandeng Design Centre di Korea.

Dalam kesempatan itu Ketua Aprisindo Jawa Timur, Winyoto Gunawan menyambut positif hadirnya Hallmar Business School. Menurutnya, lembaga ini diharapkan bisa mendorong industri.alas kaki nasional, mengingat industri ini bagian dari industri kreatif, karena tak lepas dari tren dan desain.

Sementara Ketua Apkrindo Jawa Timur, Tjahjono Haryono menyatakan, tantangan uang dihadapi dalam eksistensi bisnis adalah skill. Di bisnis kuliner.misalnya, sangat sulit mendapatkan seorang barista atay bartender yang handal.

"Jawa Timur butuh sesuatu yang beda, karena dinamika bisnis terus berubah. Dan dua sektor yakni food dan foot salah satu andalan di Jatim. Kami berharap kolaborasi kami dengan Hallmar bisa menghasilkan SDM dengan skill yang berkualitas ke depannya," ujarnya.

Founder of DBL Indonesia, Azrul Ananda menambahkan, saat ini masyarakat seakan dibutakan anggapan bahwa perusahaan e-commerce raksasa adalah pengusaha sukses. Padahal secara kasat mata uang yang beredar memang besar, tapi uang itu hanya lewat saja.

"Justru UKM yang berjualan di sana yang eksis. Jadi memang UKM ini jangan disepelekan," ulasnya.

Dia pun mencontohkan upayanya dalam mengubah manajemen pengelolaan tim sepakbola dengan orientasi bisnis yang sustainable. kbc7

Bagikan artikel ini: