Penumpang bisnis dominasi penerbangan Lion Air

Jum'at, 11 September 2020 | 23:58 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Penerbangan maskapai Lion Air Group (LAG) masih didominasi penerbangan kepentingan bisnis. Tetapi, okupansinya pun masih di bawah kapasitas maksimal yang diatur pemerintah 70%.

Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait meminta agar upaya pemulihan sektor penerbangan dan pariwisata tidak hanya menjadi kepentingan maskapai saja, tetapi pemerintah dan masyarakat pun harus turut serta.

"Kami berharap semua pemangku kepentingan ikut menjaga, kita jaga termasuk dunia penerbangan nasional. Saya takut hubungan antar wilayah terganggu jika penerbangan kembali diputus akibat pandemi Covid-19," ujar Edward di Jakarta, Jumat (11/9/2020).

Edward menjelaskan, perjalanan bisnis masih mendominasi penumpang yang terbang dengan pesawat perusahaan selama masa pandemi dibandingkan dengan perjalanan wisata dan kunjungan keluarga. Pergerakan masyarakat untuk perjalanan bisnis mencapai 60%, kunjungan wisata 20%, dan 20% adalah perjalanan untuk kunjungan keluarga.

Lebih lanjut, dia menegaskan perjalanan untuk bisnis masih mendominasi lantaran memang ada pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa dihindari. Menurutnya moda transportasi pesawat lebih aman dibandingkan dengan moda transportasi. Hal ini lantaran di dalam pesawat terdapat teknologi yang memungkinkan adanya sirkulasi udara.

Tidak hanya itu, untuk menggunakan pesawat, penumpang juga harus menjalani dan memenuhi sejumlah protokol kesehatan seperti wajib menggunakan masker dan menjalani rapid test.

"Untuk Lion Air sendiri, load factor atau tingkat keterisian penumpang pesawat rata-rata masih berada di bawah 70% dari total semua penerbangan yang dilakukan perusahaan," kata Edward.

Menurutnya industri penerbangan dan pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Pemulihan sektor ini harus dilakukan semua pihak. Bukan hanya maskapai penerbangan, tetapi juga pemerintah dan masyarakat yang perlu bersabar dalam memulihkan ekonomi di tengah pandemic Covid-19.

Menanggapi rencana penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) total di DKI Jakarta, Senin (14/9/2020), Edward mengaku khawatir dengan pengetatan penerapan PSBB di DKI Jakarta akan berdampak ke industri penerbangan. Sebab jika kebijakan Jakarta diikuti oleh daerah lain, kemungkinan akan terjadi penutupan akses masuk dan keluar wilayah.

"Dilihat dari kebijakan daerah lain juga, itu baru akan mempengaruhi kinerja penerbangan. Jika tidak diikuti daerah lain, paling (mungkin) pengetatan protokol. Kita tetap menanti rincian aturan," Edward.

Edward mengaku belum mendapat informasi terkait adanya penutupan penerbangan imbas dari pengetatan PSBB yang akan dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta. Menurutnya jika permintaan mengalami penurunan maka maskapai akan melakukan pengurangan rute yang terdampak.

Edo pun berharap pengetatan PSBB di Jakarta tak akan mempengaruhi penerbangan ke daerah lain. "Sampai saat ini belum mendapat informasi, tapi kami menganalisis dari PSBB yang awal dulu. Jadi yang kita lihat kebijakan-kebijakan antar daerahnya akan saling mempengaruhi enggak, itu kan faktor orang akan melakukan perjalanan atau mengurungkan niatnya," ujarnya.

Dia sangat berharap PSBB total di DKI Jakarta tidak berdampak terhadap industri penerbangan dan hanya pengetatan protokol kesehatan yang dijalankan semua pihak.kbc11

Bagikan artikel ini: