Peluang ekspor kayu olahan ke negeri matahari terbit tak pernah kusam

Sabtu, 12 September 2020 | 13:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Peningkatan ekspor produk kayu olahan ke Jepang dinilai masih dapat ditingkatkan. Pasalnya, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat di pasar Jepang untuk produk kayu dan menempati posisi eksportir terbesar kedua setelah Cina.

Kuasa Usaha Ad-Interim KBRI Tokyo, Tri Purnajaya mengatakan, Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini telah memukul perdagangan dan perekonomian hampir di semua negara, tidak terkecuali Japang dan Indonesia.Karena itu, peningkatan ekspor sektor usaha kehutanan tentunya akan berperan penting dalam pemulihan ekonomi nasional pasca covid-19.

Tri mengatakan, KBRI Tokyo siap bermitra untuk mendukung peningkatan ekspor produk kayu olahan Indonesia khususnya plywood ke Jepang melalui peningkatan teknologi dan diversifikasi produk.

"Kebutuhan akan kayu lapis yang tinggi di Jepang telah menjadikan Jepang sebagai mitra strategis Indonesia di bidang kehutanan," kata Tri dalam keterangan resmi, Sabtu (12/9/2020).

Tri mengatakan total ekspor komoditas kehutanan Indonesia ke Jepang pada tahun 2019 mencapai US$ 1,55 miliar. Indonesia termasuk lima besar pemasok kayu terbesar ke Jepang, khususnya untuk HS 44 (komoditas kayu dan olahan kayu) dengan market share 8,21%.

Namun demikian, pandemi yang melanda dunia saat ini tidak dapat dipungkiri telah memukul perdagangan dunia dan menghadirkan tantangan tersendiri. Tercatat, impor komoditas kayu dan olahannya dari Indonesia ke Jepang per Semester I 2020 mengalami penurunan sebesar 4,34% atau mencapai US$ 20,38 juta.

"Penurunan nilai perdagangan kayu ini tidak hanya dirasakan oleh Indonesia saja, namun juga oleh negara pengekspor kayu lainnya seperti RRT, Kanada, Filipina dan juga Malaysia," ungkapnya.

Kendati demikian, pihaknya optimis seiring demand di Jepang yang masih tinggi untuk produk kayu dan olahannya, nilai perdagangan kayu Indonesia dan Jepang dapat meningkat lagi ke depannya.

"Masih terdapat sejumlah produk plywood yang meningkat permintaannya di Jepang, selain itu juga produk-produk kehutanan Indonesia lainnya pun berpeluang sangat besar masuk ke pasar Jepang seperti furniture, kertas dan kertas karton serta pulp dari kayu," kata dia.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) sekaligus Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI) Indroyono Soesilo menyampaikan akibat pandemi, ekspor produk kehutanan Indonesia ke Jepang mengalami penurunan. "Ekspor produk kehutanan kita ke Jepang periode Januari-Agustus 2020 sebesar US$ 785 juta, artinya terjadi penurunan sebesar 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 882 juta," ungkap Indroyono.

Lebih lanjut Indroyono menegaskan sebetulnya ekspor kayu Indonesia ke Jepang sudah hampir rebound pada April 2020. Namun, Mei kembali menurun, dan Juli ke Agustus menurun tajam.

Perwakilan Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) Handjaja mengatakan Indonesia adalah eksportir kayu lapis nomor dua terbesar di Dunia setelah China.Dengan nilai ekspor kayu lapis keseluruh Dunia mencapai US$1,7 miliar di tahun 2019, dimana devisa sebesar US$635 juta diperoleh dari ekspor ke Jepang.

Di Jepang sendiri, produk kayu lapis Indonesia harus bersaing dengan Produk impor yang datang dari Tiongkok, Malaysia dan Filipina. "Plywood kita mendapatkan tempat khusus di pasar Jepang, mengingat plywood kita memenuhi kualitas yang dipersyaratkan (JAS Factory), selain itu juga plywood kita mempunyai nilai lebih karena memiliki sertifikat legalitas kayu (SVLK) dimana bahan bakunya berasal dari hutan yang dikelola secara lestari" ujar Handjaya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Importir kayu Jepang (JLIA) Kiyotaka Okada mengatakan ada peluang Indonesia mengingat ekspor kayu lapis dari Malaysia dan Filipina ke Jepang cenderung menurun karena negara-negara tadi kesulitan bahan baku.

Dalam hal ini, para pengusaha kayu lapis Indonesia mengharapkan kiranya kebijakan impor mesin tidak baru untuk industri kayu lapis, yang tengah disiapkan Pemerintah, dapat segera terbit sehingga dapat membalikan ekspor produk kayu lapis Indonesia kearah yang positif.kbc11

Bagikan artikel ini: