84 Persen usaha kecil alami penyusutan pendapatan selama pandemi

Rabu, 16 September 2020 | 12:29 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 59,8 persen Usaha Mikro Kecil (UMK) dan 49,4 persen Usaha Menengah Besar (UMB) masih tetap beroperasi normal di tengah pandemik. Namun, 84 persen UMK dan 82 persen UMB cenderung mengalami penurunan pendapatan sejak pandemi terjadi.

Berdasarkan laporan Analisis Hasil Survei Dampak Covid-19 Terhadap Pelaku Usaha yang dilakukan BPS, terdapat 3 sektor usaha yang paling mengalami penurunan pendapatan menurut lapangan usaha, yakni akomodasi dan makanan minuman sebesar 92,47 persen. Kemudian jasa lainnya 90,90 persen, lalu transportasi dan pergudangan sebesar 90,34 persen.

Sementara 3 sektor usaha yang paling sedikit terimbas adalah real estate sebesar 59,15 persen, listrik dan gas 67,85 persen, kemudian air dan pengelolaan sampah 68,00 persen.

"Persentase perusahaan yang mengalami penurunan pendapatan pada sektor usaha yang lain berkisar antara 70,67 persen sampai 87,93 persen," kata Kepala BPS Suhariyanto mengutip laporan tersebut, Selasa (15/9/2020).

Berdasarkan daerah, penurunan pendapatan paling banyak terjadi di Provinsi Bali sebesar 92,18 persen. Kemudian DI Yogyakarta 86,69 persen, Banten 86,91 persen, dan DKI Jakarta 86,55 persen.

Sementara Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita mengeluhkan masih belum selesainya penanganan pandemi Covid-19 di Tanah Air. Sebab, pandemi ini telah membuat 1,3 juta industri kecil dan menengah (IKM) merana. Menyusul terpangkasnya omzet IKM antara 50 sampai 90 persen.

"Pandemi Covid-19 di Indonesia juga telah berdampak luas kepada semua sektor usaha, termasuk IKM. Terdapat 1,3 juta IKM dengan penyerapan 3,42 juta tenaga kerja terdampak Covid-19 yang menghadapi permasalahan," kata dia dalam dalam peluncuran Festival Virtual Bangga Mesin Buatan Indonesia (BMBI Fest) 2020, Selasa (15/9/2020).

Agus merinci, setidaknya ada empat permasalahan serius yang tengah menekan kelangsungan bisnis IKM. Di antaranya penurunan pendapatan secara drastis, kesulitan bahan baku, penyesuaian waktu kerja, dan turunnya kemampuan daya beli masyarakat.

"Akibatnya omzet IKM menurun drastis antara 50 hingga 90 persen. Selama pandemi Covid-19 ini berlangsung," jelasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: