Rel kereta hingga stasiun tua bakal disulap jadi destinasi wisata

Senin, 21 September 2020 | 07:15 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana mengembangkan bisnis wisata dari jalur rel dan stasiun yang bersejarah. Langkah ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja perusahaan pelat merah ini.

Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Usaha PT KAI Jeffrie N. Korompis mengatakan, pihaknya tengah mempelajari berbagai aset yang relatif tua, serta mengembangkan properti PT KAI yang menarik dan memiliki sejarah sebagai pusat destinasi baru pariwisata dan bisnis.

"Kita kini terus mempelajari secara mendalam PT KAI. Salah satu program mendesak adalah menjadikan stasiun dan jalur perjalanan sebagai destinasi wisata yang menarik sentra ekonomi bagi mitra UKM dan pebisnis lainnya. Dengan demikian tujuan menjadikan entitas bisnis PT KAI lebih baik lagi, dan membangun daya beli masyarakat, serta menghidupkan para pelaku bisnis, terutama UKM," ujarnya dalam keterangan tertulis seperti dikutip, Minggu (20/9/2020).

Dalam hal rencana kerja, KAI menargetkan bisa menyelesaikan pembangunan MRT fase kedua, pembangunan proyek kereta cepat, dan keberlangsungan pembangunan LRT yang terintegrasi di Jabodetabek sesuai rencana pemerintah dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS 2010- 2030).

Namun program utama saat ini adalah membangun jaringan perkeretaapian nasional pada tahun 2030 sepanjang 12.100 km (Pulau Jawa-Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua), termasuk jaringan kereta api perkotaan sepanjang 3.800 km.

Rencana itu juga disampaikan di depan Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel saat melakukan kunjungannya. Menurutnya pemerintah dan berbagai pihak terkait harus berkomitmen kuat menjadikan transportasi massal berbasis rel sebagai primadona infrastruktur pengangkutan penumpang, kargo, dan barang yang strategis.

"Sebagai lembaga kontrol, saya melihat hal ini mendesak. Kita ingin efisien dan kompetitif dalam pertarungan ekonomi global dan pertumbuhan ekonomi, namun kita membiarkan PT KAI berjibaku sendiri. Kita tidak bisa membiarkan PT KAI berpikir sendirian melakukan pemeliharaan infrastruktur PT KAI yang relatif tua, restorasi stasiun dan aset yang luar biasa besar menjadi baik dan menarik, serta mengadakan investasi baru untuk angkutan massal berbasis rel yang modern. Pemerintah harus mengambil momentum di era pandemi saat ini perbaikan menyeluruh PT KAI," ucapnya.

Rachmat juga ingin mengetahui efektivitas rencana pemerintah untuk memberikan tambahan penanaman modal negara (PMN) sebesar Rp 3,6 triliun membantu PT KAI menghadapi beban krisis ekonomi akibat dihantam pandemi COVID-19.

Sebelumnya pada tahun 2015, BUMN strategis ini mendapat PMN sebesar Rp 2 triliun dan tahun 2017 mendapat tambahan PNM Rp 2 triliun, sehingga totalnya akan menjadi Rp 7,6 triliun.

Menurut Rachmat PT KAI sendiri harus bisa menjalankan bisnis dengan konsep menunjang efisiensi dan peningkatan ekonomi, serta pembangunan negara maupun pertumbuhan ekonomi yang tinggi. PT KAI juga harus berperan sebagai perusahaan negara dengan program program penyelamatan ekonomi dan berkomitmen menjadi ladang lapangan kerja yang produktif bagi sumber daya manusia Indonesia. Membuka peluang bisnis kemitraan bagi ekonomi skala kecil dan menengah dalam sektor jasa dan barang tertentu.

Selain itu, PT KAI juga harus mengedepankan kebijakan perbaikan dan perubahan wajah perkeretaapian nasional dalam lima tahun ke depan menjadi lebih modern. Mengembangkan transportasi massal, meremajakan dan menghidupkan kembali jaringan kereta di sejumlah wilayah secara terintegrasi, berimbang, aman, nyaman, merata, dan efisien. kbc10

Bagikan artikel ini: