Sinyal RI masuk jurang resesi ekonomi kian nyata

Selasa, 22 September 2020 | 21:04 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memprediksikan ekonomi indonesia akan masuk resesi pasalnya perkiraan kondisi perekonomian nasional di triwulan III 2020 yang masih tumbuh di zona negatif. Setelah sebelumnya pada kuartal kedua juga tumbuh negatif.

Dengan ekonomi yang masih mengalami kontraksi di kuartal ketiga, Menkeu juga kembali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional di 2020 menjadi -1,7% hingga -0,6%. Perkiraan itu lebih dalam dari taksiran pertumbuhan sebelumnya di kisaran -1,1% hingga 0,2%.

"Kementerian keuangan melakukan revisi forecast pada September ini, sebelumnya kita memperkirakan untuk tahun ini minus 1,1% hingga positif 0,2% kemudian forecast terbaru kita adalah kisaran minus 1,7% hingga minus 0,6%," ungkap Sri Mulyani konferensi pers virtual, di Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Menkeu menyebutkan dikoreksinya proyeksi pertumbuhan itu berangkat dari perkiraan kondisi perekonomian nasional di triwulan III yang masih di zona negatif. Perbaikan diperkirakan baru akan terjadi hingga mendekati 0% di triwulan IV 2020.

Berdasarkan hitungan bendahara negara, pada triwulan III 2020 konsumsi rumah tangga masih berada di zona negatif yakni -3% hingga -1,5%. Sedangkan secara menyeluruh konsumsi rumah tangga diperkirakan akan berada di kisaran -2,1% hingga -1%.

Menkeu menambahkan konsumsi pemerintah akan menjadi satu-satunya senjata melawan pelemahan ekonomi. Karenanya, diperkirakan pertumbuhannya di triwulan III akan mencapai 9,8% hingga 17%. "Untuk keseluruhan tahun, kita ada antara di positif 0,6% hingga 4,8% untuk konsumsi pemerintah. Jadi pemerintah sudah melakukan all out melalui kebijakan belanja atau ekspansi fiskalnya sebagai cara untuk counter cyclical," terangnya.

Sedangkan pertumbuhan konsumi investasi dinilai akan tetap berada dalam zona negatif. Diprediksi pada triwulan III pertumbuhannya -8,5% hingga -6,6% dan secara menyeluruh berada di kisaran -5,6% hingga -4,4%. Pertumbuhan yang turun tajam juga terjadi pada kinerja ekspor, Sri Mulyani memprediksi kinerja ekspor nasional pada triwulan III akan tumbuh di kisaran -13,9% hingga -8,7%.

Secara menyeluruh, kinerja ekspor akan tetap berada di zona negatif yakni -9% hingga -5,5%. Pelemahan ekspor itu menandakan lemahnya perekonomian negara-negara mitra dagang Tanah Air. Dampaknya juga akan terlihat pada pertumbuhan kinerja impor yang diprediksi pertumbuhannya akan -26,8% hingga -16% di triwulan III dan tumbuh -17,2% hingga -11,7% secara menyeluruh.

"Karena itu neraca pembayaran kita, terutama untuk neraca perdagangan memang mengalami surplus. Tetapi surplusnya ini akibat kontraksi impor yang jauh lebih dalam dibandingkan kontraksi ekspornya sehingga juga belum menunjukkan suatu pemulihan yang masih sangat rapuh.Jadi walaupun PMI (Purchasing Manager's Index) manufaktur kita sudah di atas 50, kita masih harus berhati-hati melihat perkembangan dari perekonomian kita di triwulan III ini yang tinggal beberapa minggu dan di triwulan IV nanti," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: