Link and match pendidikan vokasi dan industri harus dikonkretkan

Kamis, 24 September 2020 | 10:22 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pendidikan vokais menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Tetapi yang harus ditegaskan adalah,  link and match antara dunia Pendidikan dengan dunia industri perlu dikonkretkan.

"Sekolah dan kampus vokasi tidak sekadar fokus hanya menciptakan lulusan dengan mengantongi ijazah saja, namun lebih dari itu lulusannya harus memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia industri," tegas Direktur SDM Pelindo III, Edi Priyanto saat Webinar tetang pendidikan vokasi yang digelar oleh Fakultas Kesehatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Rabu (23/9/2020).

Edi Priyanto mengatakan, dalam rangka memberikan kesempatan kepada mahasiswa pada dunia kerja, PT Pelindo III telah memberikan kesempatan para mahasiswa untuk mengikuti kegiatan magang di Perusahaan. Melalui Forum Human Capital Indonesia (FHCI) dibuatlah Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) yang dapat diikuti oleh mahasiswa dengan durasi waktu minimal enam bulan.

PMMB ini merupakan salah satu program unggulan Kementrian BUMN melalui Forum Human Capital Indonesia (FHCI) sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap pembangunan SDM.

“Pendidikan vokasi harus mempersiapkan calon tenaga kerja yang siap bekerja dengan penerapan kurikulum yang lebih banyak aktifitas praktek kerja/lapangan, untuk itu kegiatan magang pada dunia industry mutlak dilakukan”, lanjut Edi.

Edi memerinci, biasanya dunia pendidikan terlalu fokus pada peningkatan hard skill, dan kurangnya soft skill masih menjadi keluhan dari beberapa pengguna tenaga kerja yaitu seperti adanya kurangnya kompetensi SDM khususnya pada soft skill seperti umumnya kurang tahan menghadapi tekanan dalam dunia kerja, kurang dapat bekerjasama dalam sebuah tim, kurangnya inisiatif dan mudah bosan, serta kurang dapat berkomunikasi lisan dan tulisan dengan baik.

Sementara Wikan Sakarinto mengatakan bahwa link and match dunia Pendidikan dan industry bukan hanya sekedar kerjasama yang didokumentasi secara seremonial dan setelah itu selesai, namun perlu kontinuitas dan komunikasi intens dengan industri.

“Proses ini diharapkan akan menghasilkan lulusan yang kompeten, siap kerja.  Seseorang yang dikatakan kompeten jika memiliki kompetensi dan didukung ijazah, yaitu “aku bisa apa? ” bukan “aku sudah belajar apa”. Selain itu orang yang kompeten juga didukung hard skill, soft skill, kejujuran dan integritas," ujar Wikan.

Lebih lanjut Wikan mengatakan link and match pendidikan vokasi dengan dunia industri dilakukan diantaranya meliputi : penyusunan kurikulum bersama, adanya dosen/guru praktisi dari industri, magang yang terstruktur dan dikelola dengan baik, beasiswa dari industri (ikatan dinas),  training guru/dosen oleh industri, sertifikasi kompetensi, CSR dari industri yang diberikan untuk mendukung kebutuhan peralatan kampus, juga hilirasi riset termasuk join riset dengan industri.kbc6

Bagikan artikel ini: