Substitusi impor industri 35% diupayakan terealisasi pada 2022

Minggu, 27 September 2020 | 20:08 WIB ET
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah berupaya fokus memprogramkan substitusi impor sebesar 35% dalam dua tahun ke depan. Target ini diakselerasi guna menopang pemulihan ekonomi nasional terdampak pandemi Covid-19.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pihaknya bakal menjalankan empat strategi untuk mewujudkan penggantian kebutuhan impor. Strategi tersebut meliputi pendalaman struktur industri, kemandirian bahan baku dan produksi, dukungan regulasi-insentif, hingga optimasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri atau P3DN.

Agus menegaskan, agar sasaran tersebut bisa terealisasi pada 2022 diperlukan dukungan dan sinergitas seluruh pemangku kepentingan terkait. Mulai lingkup kementerian dan lembaga hingga asosiasi industri. "Guna mengakselerasinya, kami juga akan fokus pada implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0," tutur Agus di Jakarta, Minggu (27/9/2020).

Akibat pandemi, pihaknya juga memasukkan sektor yang menjadi prioritas baru dalam roadmap Making Indonesia 4.0, yaitu farmasi dan alat kesehatan. Kedua sektor mengalami pertumbuhan dan permintaan yang signifikan saat ini.

"Pelajaran dari pandemi, kita harus menjadi negara yang mandiri di sektor kesehatan. Jadi, ada tujuh sektor prioritas pada roadmap Making Indonesia 4.0," imbuhnya.

Sebelumnya, lima sektor yang sudah menjadi prioritas adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, kimia, otomotif, serta elektronik. Kelimanya telah mempresentasikan 70% dari PDB industri, 60% dari ekspor industri, dan 60% dari penyerapan tenaga kerja yang ada di Tanah Air.

Menperin optimistis inisiasi Making Indonesia 4.0 yang berjalan lancar bakal mendongkrak posisi Indonesia sebagai 10 negara besar dengan perekonomian terkuat di dunia pada 2030. Strategi serupa juga akan mampu menarik investasi baru dan menjaga iklim usaha di Tanah Air.

"Dalam implementasinya, kami akan jalankan secara simultan, antara penurunan impor melalui substitusi impor pada sektor industri yang nilai impornya besar, dengan peningkatan utilisasi produksi pada seluruh sektor industri pengolahan," paparnya.

Kemenperin membidik utilisasi sektor manufaktur secara keseluruhan bisa mencapai 60% hingga akhir tahun ini setelah tertekan Covid-19. Pada 2021, utilisasi bakal lanjut digenjot sebesar 75% dan terus dipacu hingga 85% setahun kemudian.

Sebelum Covid-19 ada di Indonesia, utilisasi industri di nasional mencapai 75%. "Mulai Juni sampai sekarang sudah mulai ada tanda pemulihan, dengan tingkat utilisasi 52%. Kinerja gemilang ini tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia Agustus yang berada pada level 50,8 atau ekspansif," sebutnya.

Efek positif dari peningkatan utilisasi itu, antara lain penyerapan tenaga kerja yang terdampak PHK, peningkatan kemampuan belanja dalam negeri, dan peningkatan pasar ekspor. "Strategi penurunan impor ini akan kami dorong melalui peningakatan invetasi, tentunya akan ada penyerapan tenaga kerja baru," ujar Agus.

Kemenperin mencatat, rencana sejumlah investasi sektor manufaktur sepanjang 2019-2023 yang sudah terdaftar di BKPM total nilainya menembus Rp 1,04 triliun berasal dari 12 perusahaan.Sektor-sektornya meliputi industri permesinan dan alat mesin pertanian,industri kimia hulu, industri kimia hilir dan farmasi, industri logam (non-smelter), industri smelter, industri elektronika dan telematika, serta industri makanan hasil laut dan perikanan.

Berikutnya, industri minuman, tembakau dan bahan penyegar, industri tekstil, kulit dan alas kaki, industri alat transportasi (otomotif), industri bahan galian non logam, serta industri hasil hutan dan perkebunan. "Kami siap mengawal realisasi investasi ini karena tentu akan sangat membantu pada program substitusi impor," tegas Agus.

Pihaknya mengkalkulasi total kebutuhan investasi senilai Rp 197 triliun untuk mengalihkan 35% impor barang input sektor manufaktur ke produksi dalam negeri. Nantinya jumlah tersebut akan menghasilkan nilai target produksi Rp 142 triliun dan biaya investasi Rp 55 triliun. "Target produksi ini adalah untuk struktur biaya di luar proses produksi, seperti perizinan, pengadaan lahan dan lainnya," sebutnya.

Apabila terealisasi, akan menciptakan 397.000 peluang kerja tambahan.Penambahan ini setingkat dengan peningkatan 6% ketenagakerjaan di sektor manufaktur. "Kami bertekad untuk menjaga aktivitas industri kala pandemi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat dan disiplin," tandasnya.

Sebab, industri manufaktur merupakan salah satu sektor yang dapat diandalkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Sepanjang kuartal II/2020, sektor industri masih memberikan kontribusi terbesar pada struktur PDB nasional sebanyak 19,87%. kbc11

Bagikan artikel ini: