Produsen bibit wajib tunda penetasan telur hingga 50 persen

Senin, 28 September 2020 | 11:34 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (PKH Kementan)  mewajibkan perusahaan pembibitan melakukan pengurangan produksi bibit ayam broiler diantaranya melalui penundaan penetasan telur -setting hatching egg (HE) hingga 50%.

Kebijakan yang dimaksudkan untuk mempercepat stabilisasi perunggasan nasional ini dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Ditjen PKH Nomor 18029/PK.230/F/09/2020 tentang pengurangan ayam broiler  usia dibawah 10 hari (day old chick/DOC). Demikian salinan SE Ditjen PKH Nasrullah tertanggal 18 September 2020 diperoleh kabarbisnis.com dalam webinar Pusat Kajian Pangan Pertanian dan Advokasi di Jakarta, baru-baru ini.

Adapun kebijakan ini mengacu pada evaluasi pelaksanaan SE Dirjen PKH Nomor 09246/SE/PK.230/F/08/2020 Tentang Pengurangan DOC FS Ayam Ras Melalui Cutting HE, Penyesualan Setting HE dan Afkir Dini PS Tahun 2020 dan SE Dirjen PKH Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020 Tentang Pengurangan DOC FS Bulan September 2020.

Kementan, sebut SE tersebut mewajibkan perusahaan pembibit  melakukan pengurangan jumlah setting HE sebesar 50% atau sebanyak 35.987.675 butir per minggu sesuai data SHR yang dilaporkan oleh perusahaan pembibit. Caranya dengan menunda setting HE ke dalam mesin setter selama 4 periode setting HE sejak 20 September - 17 Oktober 2020.

Bagi, telur HE yang tidak diinkubasi dalam mesin setter dapat disalurkan sebagai CSR untuk bantuan masyarakat kurang mampu khususnya yang terdampak pandemi Covid­19. Kementan juga melarang telur ini diperjualbelikan sebagai telur konsumsi, sebagaimana diatur dalam Permentan Nomor 32/Permentan/PK.230/09/2017 Bab III pasal 13 (4) tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

“Untuk memastikan penundaan (seeting HE red), mesin penetas kita cek lagi. Kita uji sampling dari rak-rak. Per 21 September 2020, realisasinya sebanyak 2.055.575 juta atau 27,4% dari target SE Dirjen PKH sebesar 7,5 juta butir,” ujar Direktur Pembibitan dan Produksi Ditjen PKH Sugiono .

Sementara cutting HE sesuai SE Dirjen PKH yang pertama tercatat 14 juta butir dan sudah terealisasi sebanyak 12.262.699 juta butir (87,6%).”Adapun target cutting HE sesuai SE Dirjen kedua sebanyak 19.200.035 juta butir, terealisir sebanyak 8.489.774 butir atau sebesar 44,11 %.dari target,” kata Sugiono.

Terkait realisasi afkir dini parent stock (PS) per 23 September , untuk betina sebanyak 2.359.859 ekor (58,17%) dan betina 229.948 ekor (64,37%). ”Mudah-mudahan berdampak. Saya turun ke lapangan ke Subang,Jawa Barat  ada mesin penetas besar satu hari bisa memproduksi 200.000 butir ada satu mesin penetas lagi yang memproduksi 250.000 telur yang tiga hari lagi panen. Kita jaga di hilir. Pengurangan impor GPS bukan solusi. Hitung-hitungan dari tim ahli itu salah terus karena tidak diikuti unsur hilir,” terang Sugiono.

Dia menambahkan, dirinya memiliki ‘jurus jitu’, tanpa mau menjelaskan tegas bagaimana mengejar target yang telah ditetapkan.

Lantas Sugiono pun memberikan skenario tiga strategi pengendalian produksi anak ayam ras ini, melalui cutting HE akan berdampak  berpotensi mengurangi produksi menjadi 158.242.588 ekor dari 225.086.264 ekor dan surplus di Oktober sebesar 8 %.Untuk dampak tunda setting , kurangi produksi ayam tetas sehari dari 282.927.935 ekor menjadi 153.303.607 ekor dan potensi surplus di November sebesar 4,68%.

“Dampak afkir dini bibit ayam akan mengurangi produksi ayam dari 281.621.048 ekor menjadi 251.305.902 ekor dan potensi surplus Desember 70,12%,” beber Sugiono

Kembali SE Ditjen PKH, perusahaan pembibit GPS juga diwajibkan bertanggungjawab terhadap perusahaan yang telah mendapatkan distribusi PS dari perusahaan pembibit GPS yang dimaksud, untuk melakukan pengurangan jumlah setting, cutting HE dan afkir dini PS. Kewajiban masing-masing perusahaan itu telah ditetapkan dalam SE baru itu dan SE Dirjen PKH Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020.kbc11

Bagikan artikel ini: