Potensi capai Rp3.000 triliun, industri halal nasional belum digarap maksimal

Rabu, 30 September 2020 | 09:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Besarnya jumlah penduduk muslim di Tanah Air membuat potensi industri halal nasional masih cukup besar. Sayangnya, potensi tersebut masih belum bisa dimaksimalkan oleh masyarakat atau pelaku usaha dalam negeri.

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan, secara global potensi industri halal mencapai Rp 30.000 triliun. Sementara Indonesia dengan masyarakat muslim terbanyak dunia, memiliki potensi sebesar Rp 3.000 triliun.

Namun menurutnya, peluang tersebut justru masih dinikmati oleh pelaku usaha asing. "Indonesia hanya menjadi konsumen," katanya, dalam sebuah webinar, Selasa (29/9/2020).

Oleh karenanya, Abdullah mendorong para pemangku kepentingan industri halal nasional untuk meningkatkan peranannya. Khususnya bagi perbankan syariah.

"Saat ini industri halal menjadi new business dan new brand," ujarnya.

Di tengah pandemi Covid-19, Abdullah menilai peranan perbankan syariah dalam memanfaatkan peluang industri halal sudah cukup baik.

Hal tersebut terefleksikan dengan terus tumbuhnya total aset perbankan syariah. Pada Juni 2020, total aset perbankan syariah tumbuh 9,22 persen secara tahunan menjadi Rp 545,4 triliun. Realisasi itu lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional yang hanya tumbuh 4,89 persen.

"Terlihat perbankan syariah masih menunujukan perkembangan kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan perbankan konvensional di tengah Covid-19," ujarnya.

Menurutnya, pertumbuhan kinerja perbankan syariah di tengah pandemi utamanya didorong oleh 3 hal. Pertama, meningkatnya akan kesadaran gaya hidup halal. "Ditunjukkan oleh munculnya beberapa komunitas," katanya.

Kemudian, adanya dukungan dari pemerintah terhadap keuangan syariah, yang terefleksikan dengan pembentukan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) hingga pembangunan infrastruktur penunjang industri halal. kbc10

Bagikan artikel ini: