Menteri Teten akui koperasi hadapi masalah likuiditas

Rabu, 30 September 2020 | 15:10 WIB ET
Menkop UKM Teten Masduki
Menkop UKM Teten Masduki

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengakui, pandemi Covid-19 telah berdampak besar terhadap koperasi. Lembaga keuangan nonbank tersebut menghadapi konsekuensi penurunan omzet Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

"Pelaku UMKM tidak dapat mengembalikan pinjaman kepada Koperasi, dan terjadilah resiko debitur default (gagal bayar)," tutur Teten melalui keterangannya di Jakarta, Rabu (30/9/2020).

Menurut Teten, likuiditas koperasi juga terganggu karena adanya peningkatan penarikan dana anggota yang cukup signifikan dan tidak diimbangi dengan pemasukan dari pembayaran pinjaman anggota. Hal ini berdampak besar pada ketidakpercayaan anggota terhadap Koperasi, yang pada akhirnya terjadi rush money dan masalah hukum.

"Karenanya, untuk mengatasi permasalahan yang ada saat ini, kebijakan yang dilakukan pemerintah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di antaranya subsidi bunga, penempatan dana pemerintah, restrukturisasi kredit, penjaminan kredit modal kerja, pembiayaan investasi kepada koperasi melalui LPDB diperlukan," papar Teten.

Data Kementerian Koperasi dan UKM, koperasi mengalami permasalahan utama pada permodalan sebanyak 46% dan penjualan 36%. Sedangkan permasalahan produksi dan distribusi sebesar tujuh persen serta bahan baku empat persen.

Pemerintah sudah mencanangkan program PEN, dengan penganggaran sebesar Rp 695,20 triliun untuk menanggulangi dampak pandemi Covid-19. Sektor UMKM mendapat alokasi dana sebesar Rp 123,46 triliun.

Adapun program dirancang terdiri tiga kategori, yakni KUMKM yang berstatus dampak bertahan mendapat; insentif pajak, menurun mendapat relaksasi dan restrukturisasi kredit, perluasan pembiayaan, serta digitalisasi dan offtaker. Sedangkan KUMKM yang berstatus dampak bangkrut mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT).kbc11

Bagikan artikel ini: