Deflasi tiga kali berturut-turut , BPS: Daya beli sangat lemah

Kamis, 1 Oktober 2020 | 19:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan telah terjadi deflasi selama tiga bulan berturut-turut sejak Juli hingga September 2020. BPS menilai, situasi saat ini menunjukkan daya beli masyarakat masih sangat lemah akibat pandemi Covid-19.

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan pada Juli 2020 terjadi deflasi 0,10%. Kemudian berlanjut pada bulan Agustus sebesar 0,05% dan September 0,05%. "Daya beli kita masih sangat lemah. Itu yang perlu diwaspadai karena ada deflasi berturut-turut selama tiga bulan. Jadi sepanjang kuartal III ini daya beli masih lemah," kata Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Kamis (1/10/2020).

Suhariyanto menjelaskan deflasi yang terjadi berturut-turut itu terakhir terjadi pada tahun 1999 silam. Saat itu, terjadi deflasi secara tujuh bulan beruntun yakni pada bulan Maret hingga September 2020.

Adapun untuk laju inflasi inti tercatat sebesar 0,13%. Angka tersebut tercatat telah mengalami tren penurunan sejak bulan Maret lalu yang masih sebesar 0,29%. Suhariyanto mengatakan inflasi inti pada September lalu pun merupakan yang terendah sejak 2004 saat BPS dan Bank Indonesia mulai menghitung angka inflasi inti.

Suhariyanto menuturkan penyumbang deflasi pada periode September 2020 adalah penurunan harga kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau serta penurunan tarif angkutan transportasi khususnya moda pesawat terbang. Dijelaskan sumbangan kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau terhadap besaran deflasi sebesar 0,09% dengan tingkat inflasinya -0,37%

Kemudian untuk kelompok pengeluaran transportasi memberikan andil terhadap deflasi sebesar 0,04% dengan tingkat inflasi sebesar -0,33%. "Komoditas pangan yang memberikan andil terbesar pada deflasi adalah daging ayam ras dan telor ayam ras sebesar 0,04%. Kemudian bawang merah andil deflasi 0,02% dan bebereapa jenis sayuran tomat cabe rawit andilnya 0,01%," kata dia.

Suhariyanto menyebutkan dari 90 kota Indek Harga Komsumen (IHK) yang dipantau BPS terdapat 34 kota yang mengalami inflasi dan 56 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 1% dan terendah di Pontianak dan Pekanbaru masing-masing sebesar 0,01%.

Sementara deflasi tertinggi terjadi Timika sebesar -0,83% dan deflasi terendah terjadi di Bukittinggi, Jember dan Singkawang masing-masing sebesar -0,01%. Sementara itu salah satu sektor penyabab utama terjadinya inflasi adalah dari kelompok pengeluaran pendidikan.

Tingkat inflasinya mencapai 0,62% dengan andil mencapai 0,02%. Terjadinya inflasi pada kelompok pengeluaran ini lebih disebabkan adanya peningkatan tarif pendidikan khususnya untuk pendidikan tingkatan akademi. "Uang Kuliah naik sehingga memberikan andil inflasi sebesar 0,03 % dan kalau kita lihat kenaikan harga uang kuliah ini terjadi di 19 IHK," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: