Seberapa besar biaya urus SNI produk masker? Nih bocorannya

Jum'at, 2 Oktober 2020 | 16:45 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perusahaan yang menjual masker kini diminta untuk segera melabeli produknya dengan sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Karena pemerintah berencana untuk mewajibkan seluruh produk masker harus berstandar SNI.

Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan dan Halal Badan Standarisasi Nasional (BSN) Wahyu Purbowasito Setyo Waskito mengatakan, biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan lebel SNI ada dua jenis. Pertama adalah biaya yang dihitung satu produk yang kedua adalah borongan dengan jenis produk yang sama.

Namun dari dua jenis tersebut, biaya yang dikeluarkan dihitung berdasarkan dua hal. Pertama adalah biaya berdasarkan pengujian di laboratorium.

Masing-masing produk juga tidak sama antar satu dengan yang lainnya. Karena, makin banyak produk yang diuji makin banyak uang yang dikeluarkan, namun makin banyak lab yang bisa melakukan pengujian makin murah biaya yang dikeluarkan.

"Ada dua sisi yang dikeluarkan. Pertama adalah pengujiannya dulu. Pengujian ini kan butuh biaya juga. Ini tergantung parameternya. Makin banyak makin banyak keluar uangnya. Dan juga makin banyak labnya bisa kan kita enggak mengendalikan harga di sini jadi makin banyak yang bisa kan persaingan nih jadi turun gitu loh," ujarnya seperti dikutip, Jumat (2/10/2020).

Selain itu, biaya juga memperhatikan tingkat kesulitannya dan juga bahan yang digunakanya. Artinya semakin sulit barang yang diujikan semakin mahal juga biayanya.

"Yang bisa mengujikan hanya sedikit ya mahal. Kalau pengujiannya sulit ya mahal. Tergantung bahan pengujiannya mahal ya otomatis mahal," jelasnya.

Lalu yang kedua adalah biaya untuk sertifikasinya. Menurut Wahyu, biaya yang dikeluarkan ini adalah untuk lembaga sertifikasi melakukan survei ke pabrik atau gempat produksi produknya untuk melihat kesesuaian produknya dari dekat.

"Kedua adalah biaya sertifikasinya. Lembaga sertifikasi ini kan nanti akan melihat prosesnya, sistem manajemenya melakukan sampling dan lain sebagainya. Ini ada biaya juga. Ini juga beda-beda. Umumnya kalau yang sudah umum enggak mahal," jelasnya.

Di sini juga antara satu produk dengan yang lainya memiliki tingkat biaya yang berbeda. Karena biaya yang dikeluarkan dilihat dari tipe produknya jika ongkos produknya sedikit biaya pengujian akan mahal.

"Ini juga tergantung dari tipe produknya kalau mahal banyak ya tentunya dibagi ongkos bikin produknya murah. Kalau ongkos produknya sedikit ya tentunya menjadi mahal," kata Wahyu.

Namun Wahyu enggan menyebutkan berapa rata-rata perusahaan masker medis dalam mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan lebel SNI. Namun dipastikan jika perusahaan hanya membayar satu kali untuk mendapatkan lebel SNI, terkecuali ada perubahan produk.

"Sebagai satu entitas produksinya kan enggak dibatasi dalam satu bulan harus berapa. Jadi satu kali sertifikasi sudah," ucapnya. kbc10

Bagikan artikel ini: