PLN kembali ingatkan bahaya layang-layang jika dekat jaringan

Senin, 5 Oktober 2020 | 22:01 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur kembali mengimbau masyarakat untuk tidak bermain layang-layang dekat dengan jaringan listrik. Imbauan tersebut ditegaskan pasca terjadinya pemadaman listrik di sejumlah wilayah Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, dan Nganjuk pada Sabtu (3/10/2020) petang akibat gangguan penghantar 150kV Manisrejo-Nganjuk 1.

Berdasarkan hasil penelusuran dan investigasi Tim PLN Unit Induk Transmisi Jawa Timur & Bali, di lokasi diketemukan sebuah layang - layang menyangkut di jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150kV Manisrejo-Nganjuk.

Saluran udara yang mensupplay listrik terdiri atas Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV, Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV dan 70 kV, Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 20 kV serta Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR).

Untuk SUTM 20 kV, terhitung sampai dengan September 2020 telah terjadi gangguan layang-layang sebanyak 600 kali dimana angka tertinggi terjadi di bulan Agustus sebanyak 207 kali. Dalam kurun waktu tersebut, setidaknya 9.715.646 juta pelanggan terdampak padam. Selama bulan September 2020 saja, terjadi gangguan akibat layang-layang sebanyak 204 kali dimana gangguan terbanyak terjadi di wilayah kerja PLN UP3 Mojokerto sebanyak 40 kali kejadian.

Menanggapi hal ini, PLN UID Jawa Timur tak hentinya galakkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya bermain layangan di dekat jaringan listrik. Tak hanya itu, sejak Juni 2020 patroli jaringan pun kian digiatkan untuk mengantisipasi benda-benda terkena jaringan, salah satunya layang-layang yang mampu mengganggu terhambatnya keandalan pasokan listrik.

"Kami tak henti-hentinya mengimbau masyarakat yang bermain layang-layang agar menjauhi jaringan listrik PLN karena dampaknya jika padam akan merugikan masyarakat luas," tegas General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur, Nyoman S. Astawa, Senin (5/10/2020).

Sejak Juni lalu, seluruh insan PLN terjun berikan edukasi dan sosialisasi melalui media sosial, radio, spanduk, pamflet hingga temui langsung spot-spot yang biasanya digunakan bermain layang-layang. Mengingat luasnya wilayah Jawa Timur, PLN tidak mampu untuk mengawasi aktivitas masyarakat yang bermain layang-layang setiap saat.

"Dalam hal ini, PLN membutuhkan bantuan dari semua lapisan masyarakat untuk bisa melakukan pencegahan tersebut. Jika himbauan ini dirasakan masih kurang, kami berharap ada tindakan tegas kepada masyarakat yang bermain layang-layang dan mengakibatkan padamnya jaringan untuk menimbulkan efek jera" paparnya.

Dari sisi transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), PLN UIT JBTB mencatat, tren tindakan pengamanan jaringan dari tersangkutnya layang-layang di Jawa Timur mengalami kenaikan dari bulan Januari hingga Agustus 2020. Puncaknya pada Bulan Agustus 2020, sebanyak 108 kasus penurunan layang-layang yang menyangkut pada jaringan transmisi PLN.

Dengan diketemukannya layang-layang menyangkut di jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150kV Manisrejo-Nganjuk pada Sabtu sore lalu, seluruh jajaran UIT JBTB berharap agar semua pihak dapat turut memberikan perhatian pada maraknya masyarakat bermain layang-layang yang dapat berakibat pada terhentinya supply listrik secara luas.

"Mutu dan keandalan pasokan listrik kepada pelanggan yang terus kami jaga, oleh karena itu tim kami selalu siap sedia atasi gangguan seperti layang-layang ini. Gangguan ini sangat tidak kami harapkan, oleh karena itu kami mohon kepada masyarakat untuk bermain layang-layang dengan bijak. Mari kita jaga bersama jaringan listrik kita, dan PLN siap menggandeng seluruh elemen masyarakat untuk berperan serta menjaga keandalan pasokan listrik dengan menjaga jarak aman dari jaringan listrik," jelas General Manager PLN UIT JBTB, Suroso.

Berdasar UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, setiap orang yang tidak memenuhi keselamatan ketenagalistrikan sehingga mempengaruhi kelangsungan penyediaan tenaga listrik dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun dan denda paling banyak Rp500 juta.

Apabila terdapat perbuatan yang tidak memenuhi keselamatan ketenagalistrikan tersebut mengakibatkan terputusnya aliran listrik sehingga merugikan masyarakat, maka akan dikenakan pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp2,5 miliar.

Mematuhi jarak aman dan melaksanakan kegiatan tidak dekat dengan jaringan, akan menghindarkan terjadinya bahaya atas keselamatan diri manusia, juga sekaligus mendukung PLN agar tidak terjadi pemadaman sehingga ketersediaan aliran listrik bagi kepentingan bersama tetap terjaga.kbc6

Bagikan artikel ini: