OJK bidik 500 ribu rekening pelajar baru hingga akhir bulan

Selasa, 6 Oktober 2020 | 08:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong inklusi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa. OJK pun menargetkan pembukaan 500.000 rekening tabungan pelajar selama Bulan Inklusi Keuangan (BIK) atau hingga 31 Oktober 2020 mendatang.

Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Sarjito mengatakan, target tersebut merupakan salah satu implementasi dari diterbitkannya Keppres 26/2019 tentang hari Indonesia menabung yang diperingati setiap 20 Agustus 2020.

"OJK bersama dengan Kemendikbud dan Kemenag akan meluncurkan program satu rekening satu pelajar, sebagai upaya untuk menanamkan budaya menabung sejak dini," kata Sarjito dalam pembukaan Bulan Inklusi Keuangan 2020 secara virtual, Senin (5/10/2020).

Sarjito menuturkan, gerakan menabung ini dapat membantu meningkatkan literasi keuangan di Indonesia. Tercatat Saat ini, tingkat inklusi keuangan nasional sudah berada di level 76,2 persen.

Namun, tingkat inklusi keuangan belum merata, sebab akses keuangan di wilayah perkotaan (83,6 persen) masih lebih tinggi daripada di wilayah pedesaan (68,5 persen).

"Sementara itu, Presiden Jokowi pada Rapat Terbatas SNKI pada Januari 2020 telah menetapkan pencapaian target 90 persen inklusi keuangan di tahun 2024," ucapnya.

Adapun dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional, akan didorong pula adanya pemulihan kredit atau pembiayaan kepada pelaku UMKM sebesar Rp 2,8 triliun selama BIK berlangsung.

Pembiayaan ini sudah termasuk program kredit pembiayaan melawan rentenir yang disinergikan dengan program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah.

"Dengan adanya kegiatan bulan inklusi keuangan sebagai agenda nasional, diharapkan akan semakin memperkuat komitmen dan dukungan setiap stakeholder untuk meningkatkan inklusi keuangan," pungkas Sarjito.

Indeks inklusi keuangan di Indonesia pada 2019 masih berada di angka 76,2 persen. Meski telah mengalami peningkatan, indeks ini masih lebih rendah dibanding negara-negara emerging market.

Di India dan China misalnya, indeks inklusi keuangan telah mencapai 80 persen. Indonesia tercatat tertinggal dibanding negara lain di Asean. Pada 2017, indeks inklusi keuangan Malaysia telah mencapai 85 persen, dan Thailand mencapai 82 persen. kbc10

Bagikan artikel ini: