Pemerintah dorong model korporatisasi sektor pertanian

Selasa, 6 Oktober 2020 | 22:32 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah mendorong model korporatisasi di sektor pertanian seperti percontohan di bidang sawit, beras, dan budidaya hewan laut.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mendorong para petani dan nelayan untuk bergabung dalam kelembagaan koperasi. "Kami ada beberapa rencana selain petani sawit di Pelalawan, Riau, yang kita dorong berkoperasi dan mereka membangun pengolahan CPO-nya," kata Teten usai menghadiri rapat terbatas dengan Jokowi secara virtual, Selasa (6/10/2020).

Sebelumnya, koperasi petani beras dijalankan di Demak, Jawa Tengah, dengan menggandeng pemerintah daerah. KSU Citra Kinaraya ini akan mengembangakan lahan kelolaan dari 100 hektare (ha) menjadi 800 ha. Menurut Teten KSU Citra Jaya telah menjual produknya ke ritel dalam negeri hingga manca negara.

Nantinya, pabrik beras modern juga dibangun untuk koperasi tersebut dengan dilengkapi rice milling unit (RMU) dengan nilai investasi Rp 40 miliar. "30 persen ekuitas, kemudian Rp 12 miliar diperoleh dari koperasi petani," ujar Teten.

Dalam proyek ini, pemerintah akan memberikan bantuan seperti alat mesin pertanian, pupuk, dan konsolidasi pembiayaan. Dengan demikian, Teten berhara produksi petani akan meningkat.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan akan mengembangkan budidaya tambak udang di lima wilayah, di antaranya Aceh Timur, Buol di Sulawesi Tengah, dan Sukamara di Kalimantan Tengah. Lalu di Cianjur, Jawa Barat dan Lampung Selatan. Pengembangan lima wilayah tersebut dimulai akhir 2020 untuk menjadi model percontohan. "Memang yang kita bangun baru lima hektare, namun ini jadi percontohan besar. Ini dalam proses pengerjaan," kata Edhy.

Hal yang menjadi tantangan, koperasi di wilayah tersebut masih menghadapi kendala pendampingan dan modal. Karena itu, pendanaan akan menggunakan Kreditu Usaha Rakyat (KUR) dan Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP).

Nantinya, tambak udang yang dikembangkan berada di Situbondo dan Jepara. Konsep yang digunakan menggunakan millenial shrimp farming dengan teknologi bioflok. Edhy mengatakan teknik tersebut untuk menarik minat anak muda terhadap budidaya udang. Selain udang, pengembangan budidaya juga akan dilakukan pada lobster dan kepiting. "Presiden sudah memberi arahan tak perlu banyak-banyak dulu, fokus di tiga produksi," ujar dia.

Sementara untuk nelayan, Kementerian Kelautan akan meningkatkan kelas kapal ikan berukuran kecil di bawah 5 Gross Tonnage (GT). Kapal penangkap ikan memang rata-rata 1 - 2 GT. Jumlah kapal ikan tangkap berukuran kecil mencapai 600 ribu, dengan rincian 300 ribu kapal tidak bermesin, selebihnya kapal bermesin.

Masih kesempatan sama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan model bisnis korporasi akan berbeda-beda pada setiap komoditas. Meski begitu, solusi yang diharapkan ialah berupa integrasi antara on farm atau budidaya dan off farm atau peningkatan pascapanen.

Airlangga menyebutkan sebagian besar petani dan nelayan tidak melakukan integrasi antara on farm dan off farm. "Ini yang didorong agar nilai tambah ditingkatkan," katanya.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah akan mendorong pembiayaan KUR untuk para petani dan nelayan, termasuk pembangunan ekosistemnya. Juga akan mendorong pembiayaan ultra mikro (UMi). Daerah akan didorong untuk mengembangkan produk unggulan masing-masing. Sebagai contoh, kata Airlangga, pengembangan produk hortikultura dilakukan di Bener Meriah, Humbang Hasundutan, Mandailing Natal, Tenggamus, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Bondowoso, dan Jembrana.

Selain itu, pemerintah akan mendorong sektor peternakan sapi dan ayam guna meningkatkan nilai tambah peternak. "Itu sektor yang diharapkan bisa menjadi pengungkit nilai tambah petani dan nelayan," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: