Terhempas pandemi, Bali kehilangan Rp9 triliun per bulan

Kamis, 8 Oktober 2020 | 10:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah berkomitmen untuk mendorong perekonomian khususnya di kawasan destinasi wisata strategis melalui sektor kelautan. Salah satunya di Bali.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, selama ini Bali hanya menggantungkan pendapatannya dari sektor pariwisata. Bahkan dia menyebut kerugian Bali selama pandemi Covid-19 mencapai Rp 9 triliun per bulannya.

"Di mana kunjungan wisman ukuran hingga 99 persen. Akibatnya Bali merugi sekitar Rp 9 triliun per bulan," katanya dalam peluncuran Program PEN Padat Karya Restorasi Terumbu Karang, secara daring, Rabu (7/10/2020).

Bali, lanjut dia, pertumbuhan ekonominya pada triwulan I/2020, mencapai minus 1,14 persen. Lalu, pada triwulan II/2020, kembali merosot ke angka negatif 0,98 persen. Sedangkan pekerja informal yang mengalami PHK di Bali menyentuh angka 100.000-an.

"Ini masalah besar yang harus kita hadapi. Lebih dari 100.000 tenaga kerja sektor informal mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Baik itu pemandu wisata, nelayan, dan buruh, dan sebagainya," katanya.

Di samping itu, Luhut juga telah mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan pemulihan terumbu karang hingga mencapai ratusan hektar.

"Saya sudah laporkan ke Presiden, tahun depan, kita akan lakukan replanting beberapa ratus hektar untuk replanting terumbu karang ini," ucap dia.

Dengan demikian, adanya program padat karya restorasi terumbu karang tersebut, telah menyerap lebih dari 11.000 tenaga kerja yang telah terserap.

"Program yang sekarang ini kita lakukan menyerap lebih dari 11.000 tenaga kerja di berbagai level. Dan sekaligus menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani laut, dalam restorasi terumbu karang," katanya.

Selain itu, Luhut juga mencanangkan penanaman kembali (replanting) tanaman bakau atau mangrove. Dia menargetkan 3 tahun ke depan, akan menanam kembali tanaman mangove bakau hingga 600.000 hektare.

"Saya kira itu sedang dikerjakan. Kita punya mangrove yang rusak ada sekitar 1 juta hektare. Target kita dalam 3 tahun ke depan kita akan coba lebih dari 600.000 hektar, kita akan lakukan program ini. Ini akan memberikan dampak luas dalam karbon kredit. Indonesia adalah super power karbon kredit yang perlu kita dorong ke depan," ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: