Gulung tikar, maskapai Thailand ini jualan roti goreng

Senin, 12 Oktober 2020 | 09:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pandemi telah memporak porandakan sejumlah sektor bisnis di dunia. Industri maskapai menjadi salah satu yang paling terdampak pandemi.

Thai Airways International misalnya, akibat lesunya bisnis penerbangan membuat perusahaan berencana untuk mewaralabakan bisnis patong-go atau roti goreng untuk menghidupkan kembali bisnisnya.

Thai Airways International memiliki resep rahasia hidangan khas Thailand ini yang disukai oleh para penumpang. Roti ini disajikan oleh maskapai kepada penumpang pesawat terbang.

Dikutip dari Bangkok Post, Minggu (11/10/2020), Penjabat Thai Airways International Chansin Treenuchagron mengatakan bahwa adonan roti goreng ini sangat populer dan setiap pagi orang-orang harus mengantre untuk membelinya.

Saat ini terdapat 5 gerai patong-go yang dibuka oleh maskapai ini di Bangkok. Penjualan bulanan sekitar 10 juta baht.

Didorong oleh hal ini, maskapai ini berencana untuk mewaralabakan bisnis roti goreng sehingga THAI dan mitranya dapat saling mendapatkan keuntungan dari popularitas mereka.

Setiap kotak seharga 50 baht berisi tiga batang adonan roti goreng dan secangkir saus celup yang terbuat dari ubi ungu dan telur custard.

Untuk diketahui, Thai Airways telah mengajukan kebangkrutan dengan total kewajiban 332,2 miliar baht. Pengadilan Kepailitan di negara tersebut telah memberikan persetujuan untuk restrukturisasi utang.

Thai Airways menyatakan bangkrut dan butuh rehabilitasi utang. Hal itu membuat para pemegang tiket gigit jari karena tiket mereka tak bisa digunakan. 

Dikutip dari The Thaiger, maskapai nasional Thailand itu menghentikan layanannya pada awal April karena krisis Covid-19. Sejak itu, maskapai tersebut tidak lagi bisa mengembalikan uang konsumen yang kepalang memberi tiket.

Departemen humas Thai Airways mengatakan tidak bisa menawarkan refund saat ini seiring Pengadilan Kebangkrutan Pusat menerima permintaan maskapai ini untuk menjalani rehabilitasi di bawah hukum kebangkrutan Thailand pada Rabu, 27 Mei 2020. Nilai tiket yang tidak bisa di-refund diperkirakan mencapai 24 miliar Baht atau nyaris Rp 11 triliun. kbc10

Bagikan artikel ini: