Meraih mimpi besar kembali bernama food estate, mungkinkah?

Senin, 12 Oktober 2020 | 12:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia mempunyai mimpi besar untuk mewujudkan ketahanan pangan melalui pembangunan food estate (lumbung pangan nasional). Untuk menunjukkan keseriusannya, Presiden Joko Widodo menetapkan sebagai proyek strategis nasional yang melibatkan berbagai kementarian.

Bahkan, Presiden melakukan kunjukan ke Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Kamis (9/10/2020) pekan lalu. Konsep food estate sebenarnya menekankan pada pengembangan pangan terintegrasi yang mencakup pertanian, perkebunan, hortikultura dan peternakan dalam satu kawasan.

Direktur Eksektutif Perhimpunan Ahli Agronomi Indonesia (Peragi) Institute Dwi Asmono Phd mengatakan pengembangan kawasan food estate adalah merupakan keniscayaan. Mengutip laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, Indonesia memiliki luas areal panen padi yang hanya 10,68 juta . Sebagai produsen beras, areal luas panen padi sebesar itu hanya sedikit lebih besar dibandingkan Bangladesh. "Ini harus didukung (Pengembangan food estate red ). Tapi harus belajar dengan kegagalan dari masa lalu," ujar Dwi dalam webinar dengan forwatan di Jakarta, Minggu (11/10/2020).

Dwi pun menunjuk program sejuta hektar lahan gambut di Kalimantan Tengah. Kemudian Pemerintah Soesilo Bambang Yudhoyono dengan program Merauke Integratade Food and Energi Estate (MIFEE).Dwi mengakui kedua program kurang berjalan sukses, meski begitu PERAGI tetap siap terlibat aktif mendukung guna pemenuhan kebutuhan pangan nasional lebih dari 200 juta warga Indonesia secara berkesinambungan. "Kita harus didukung, tapi harus belajar dari kegalalan terlebih dahulu," tukas Dwi.

Misalnya, problem strategis yang menjadi akar permasalah harus bisa diselesaikan terlebih dahulu. Diantaranya, penyediaan lahan baru yang akan direhabilitasi, tata kelola pengairan dan drainase, siapa petani yang terlibat dan pola kebijakan yang mendukung. Kunci dari budidaya tanam adalah produktivitas. Pengalamannya sebagai agronomis, menanam jagung di Seram, Papua maka produvitasnya hanya 4,5 -5 ton/ha.

Dibutuhkan hingga dua kali musim penanaman jagung apabila ingin menyamai provitas jagung petani di Amerika yang mencapai 9 ton/ha. "Tapi ini pun tidak sederhana, apabila ditanam secara massif di areal relatif terbuka maka lebih dahulu harus ada penyiapan lahan yang lebih terstruktur. Paling tidak membutuhkan lima kali musim tanam agar terlihat provitasnya stabil," terang Dwi.

Dari sisi on farm, kata Dwi menjadi faktor penentu produksi adalah dengan melakukan pemilihan bibit unggul, pengelolaan tanah yang baik, pemupukan yang tepat, pengendalian hama dan penyakit, serta pengairan yang baik. "Kemudian dari sisi off farm adalah bagaiman kita harus memperhatikan pasca panen sertanya serta pemasaran hasil," kata Dwi yang menjabat sebagai Direktur R & D Sampoerna Agro ini.

Selain itu, aspek nutrisi perlu diperhatikan dengan kondisi lahan food estate. Dwi Asmono menyebutkan pennggunaan magnesium dan kalsium (dolomit) untuk meningkatkan pH lahan pasang surut di areal food estate. Adapun yarus diperhatikan, kandungan nutrisi dan magnesium di Kalimantan ini relatif rendah. Melihat sejumlah situasinya dilapangan terlihat sederhana tetapi akan berdampak kepada provitas tanaman.

"Kemudian kami juga akan mendukung Kementan dengan memberikan saran inkubasi bisnis, pelatihan dan pendampingan serta mediasi antar masyarakat terkait program percepatan tanam dan food estate," ujar Dwi.

Di kesempatan sama, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Sarwo Edhy mengatakan, ada sejumlah kunci untuk meningkatkan produksi pertanian termasuk di food estate. Kuncinya adalah ketersediaan dan manajemen pengaturan air, benih berkualitas, dan pupuk yang tepat. "Kemudian kita melakukan kegiatan pompanisasi dan pipanisasi, serta pengadaan alsintan, dan memfasilitasi petani agar bisa membawa hasil panennya untuk dijual," ujarnya.

Menurut Sarwo, Kementan berupaya mengubah cara bertani tradisional ke modern dengan teknologi yang sudah ada. Dengan begitu diharapkan provitas dapat meningkat dan mampu memperkuat ketahan pangan nasional.

"Kami sudah siapkan alsintan traktor roda 2 dan 4 untuk mengolah lahan. Kegiatan penanaman telah disiapkan mesin transplanter. Kemudian ada combine harvester untuk membantu petani saat panen, termasuk memberi bantuan Rice Milling Unit dan dryer," kata Sarwo.

Dia menambahkan, pihaknya mendorong petani tidak lagi menjual gabah, tetapi diproses hingga dipacking sebagai upaya peningkatan pendapatan petani.

Adapun potensi lahan pengembangan food estate di Kalimantan Tengah seluas 164.598 ha. Terdiri dari lahan fungsional atau intensifikasi seluas 85.456 ha dan lahan sisa fungsional atau ekstensifikasi 79.142 ha. Sedangkan, lahan akan digarap pada 2020 adalah seluas 30.000 ha, dan tersebar di Kabupaten Kapuas seluas 20.000 ha dan Kabupaten Pulang Pisau 10.000 ha. Pada lahan tersebut, pemerintah melakukan intensifikasi pada lahan-lahan yang selama ini berupa semak belukar. Provitas hasil tanam diharapkan dapat mencapai 4 ton gabah kering panen (GKP).

Penduduk meningkat 1,3%

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan, program food estate suatu keharusan yang harus di bangun dari sekarang. Apalagi, setiap tahun jumlah penduduk Indonesia meningkat 1,3%. Perhitungan matematiknya setiap tahun Indonesia surplus padi tidak lagi besar. Jika rerata produksi padi sebesar 5,2/ha maka luas panen padi dibagi jumlah penduduk Indonesia hanya 408 m2 saja.

Food estate dilakukan korporasi petani yang didukung petani. Korporasi petani pada awalnya berbentuk Kelompok Tani diperluas menjadi gapoktan. Kemudian dperluas lagi menjadi koperasi tani hingga menjadi Unit Himpunan Supra Insus.

Untuk itu, dia mendorong peran BUMN dan BUMD dalam mendukung kelancaran program food estate agar berjalan dengan baik memerlukan kelengkapan sarana dan prasarana yang baik. Kelengkapan on farm harus tersedia mulai dari benih, pupuk, pestisida, traktor roda 4 hingga penggunaan drone. Selain itu dukungan dari teknologi modern sudah harus diterapkan.

Merujuk pengalaman magang menjadi petani di Jepang selama sembilan bulan, menurut Winarno, cukup 2 SDM untuk mengelola lahan pertanian seluas 5 ha. Semua kegitan mulai kegiatan penyebaran pupuk hingga mengantar hasil panen berbentuk beras ke pasar.

Bayu Krisnamurthi, Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Ekonomi Pertanian (Perhepi ) mengatakan, kendati dia pun mendukung program food estate, namun harus disepakati terlebih dahul siapa SDM petani yang akan terlibat menggarap lahan food estate. Apakah mereka kelompok petani atau korporasi petani seperti meniru pengembangan konsep komoditas tanaman sawit.

Dengan asumsi 2 SDM petani saja maka dibutuhkan 8.000 petani atau 30.000 jiwa beserta keluarga untuk menggarap areal 20.000 ha di provinsi Kalteng saja. "Petaninya dari mana (8.000 petani, red). Sementara kalau korporasi, saya meragukan karena jumlahnya sampai ribuan orang. Kalau basisnya lebih koperasi itu ada," terangnya.

Selain itu, dibutuhkan pemetaan terlebih dahulu skala usaha optimal lahan pertanian dari masing-masing komoditas dan daerah yang diintegrasikan usaha agribisnisnya. Misalnya tanaman jagung akan ekonomis apabila dikembangkan seluas 2.000-3000 ha. Dengan catatan, dikembangkan di Pulau Jawa dan akan berbeda apabila dikembangkan di luar Jawa bisa melebihi 10.000 ha.

Dwi Asmoro pun mengatakan, ketersediaan SDM yang memadai dan handal merupakan faktor utama dalam pengembangan food estate dan hal itu dapat dilakukan dilakukan mengembangkan kawasan perkebunan jagung di Seram Utama, Papua. Namun, ketika dihadapkan membawa hasil panennya,terbentur mahalnya biaya infrastruktur logistik.

"Jauh lebih murah mengirimkan jagung ke Philipina ketimbang ke Surabaya. Jadi kalau bicara konsepnya ketahanan pangan , justru yang bertahan malah Philipina. Belum lagi kalau bicara di laut Indonesia Timur, ketika datang musim angin barat tidak ada kapal yang bisa berlayar," lugasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: