Pembentukan kluster hortikultura untuk kepastian pasokan

Rabu, 14 Oktober 2020 | 10:38 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kepastian pasokan atau kontinuitas menjadi salah satu dari tiga hal yang harus dipenuhi dalam berbisnis hortikultura. Untuk itu, pembentukan kluster hortikultura sangat penting guna menjamin ketersediaan pasokan sepanjang tahun.

Ketua Kontak Bisnis Hortikultura Indonesia Mohamad Maulud mengatakan, ada "3K" yang menjadi kunci dalam berbisnis hortikultura, yaitu kontinuitas, kualitas dan kuantitas. Ketiga hal ini menjadi penentu apakah seorang pebisnis hortikultura tersebut bisa menguasai pasar atau justru gagal. Karena bisnis ini dipandang sangat menjanjikan pada masa pandemi Covid-19.

"Pasar sangat menjanjikan, baik produk on farm ataupun off farm, semua sangat bagus. Bahkan di masa pandemi ini ada komoditas hortikultura yang justru sangat laku hingga mengalami kenaikan 10 kali lipat, seperti jahe. Sebelum pandemi, kebutuhan jahe per bulan di supermarket hanya sekitar satu kilogram, di masa pandemi naik menjadi 10 kilogram," terang Mohamad Maulud saat bincang santai dalam Online Seminar Solyang digelar Kadin Jatim bersama Kadin Institute, Arebi dan kabarbisnis.com, Selasa (13/10/2020).

Namun hal ini harus diimbangi dengan kontinuitas produksi sehingga mampu menjamin ketersediaan pasokan. Dengan pembentukan kluster hortikultura, maka petani bisa membentuk jaringan dan menentukan managemen tanam dan panen.

"Ini pasti bisa menambah income karena produk Jatim sangat digemari di luar Jatim, utamanya lagi di masa pandemi," tambahnya.

Untuk itu, ia mengaku telah merintis pembentukan kluster hortikultura ini bersama petani di Jatim, mulai dari pembentukan kluster alpukat, blimbing, nanas, golden melon, strowberi, mangga hingga jeruk keprok.

"Kami juga akan bekerjasama dengan teman-teman di Kadin Jatim dan Disperindag Jatim karena mereka memiliki jaringan yang kuat untuk suplai produk ke Indonesia Timur. Ini harus diperkuat karena di sama sangat dibutuhkan," ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Reseller produk Hortikultura asal Bogor, Rudy Purwadi bahwa komoditas jeruk keprok Jatim sangat terkenal dan diminati konsumen Jabodetabek. Hanya saja, problemnya ada pada kontinuitas produksi.

"Pembentukan kawasan atau kluster ini bisa menjembatani terwujudnya kontinuitas pasokan dan kualitas produk hortikultura yang dihasilkan. Untuk itu, ini perlu diwacanakan. Sebab jika pasar sudah terbentuk namun pasokan bermasalah, ini tidak akan bagus dalam pembentukan pasar ke depan," ujar Rudy.

Selain itu, konsep kluster juga diyakini bisa meminimalisir tingkat fluktuasi pasokan. Sebab problem yang selama ini terus terjadi adalah ketidak seimbangan pasokan sepanjang tahun. Kalau sedang musim, pasokan melimpah sehingga harga jatuh dan petani rugi. Sementara jika sedang tidak musimnya, pasokan menipis dan harga melambung tinggi.

Selain itu, problem yang juga dihadapi petani hortikultura selama ini adalah produk yang dihasilkan tidak tahan lama dan mudah rusak. Untuk itu, harusnya sudah mulai dipikirkan bagaimana planning mulai tanam dan kapan panen. Agar tidak terjadi fluktuasi pasokan dan harga, seperti yang sering terjadi pada komoditas tomat dan cabe.

"Sudah harus dibuat perencanaan pola tanam yang terintegrasi. Sebab produk hortikultura ini termasuk tanaman high cosh. Kalau produk tidak bisa diserap pasar maka petani akan mengalami kerugian besar,. Melalui kluster ini juga,, perencanaan pola tanam bisa diterapkan" pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: