Ekonomi kuartal III diproyeksi terkontraksi 3,3 persen, ekonom sebut masih bisa berlanjut awal 2021

Kamis, 15 Oktober 2020 | 10:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ekonomi dalam negeri pada kuartal III/2020 diproyeksi terkontraksi -3,3 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun 2020 bahkan awal tahun depan.

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk, Adrian Panggabean menuturkan, kontraksi ini terjadi karena serangkaian leading economic indicators untuk Indonesia masih memperlihatkan lemahnya momentum ekonomi. Bisa saja, pelemahan akan berlanjut hingga kuartal I/2021.

Artinya di kuartal IV 2020, kontraksi ekonomi bisa kembali terjadi sebesar -2,3 persen yoy. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi di seluruh tahun 2020 akan mencapai -2,0 persen yoy.

"Dengan menggunakan data-rata tradisional dan non-tradisional, kami menghasilkan proyeksi angka pertumbuhan ekonomi kuartal III di -3,3 persen yoy," kata Adrian dalam laporannya, Rabu (14/10/2020).

Adapun sejumlah indikator memperlihatkan, gambaran mobilitas manusia yang disediakan oleh Google Foot Mobility Index, memang menginformasikan adanya perkembangan intra-kota positif dibanding kuartal sebelumnya.

Namun statistik hotel (hotel occupancy rate) masih menggambarkan rendahnya mobilitas penduduk antar-kota. Observasi lapangan mengindikasikan, occupancy rate di kuartal III/2020 masih berada di rentang 5-35 persen. Angka ini masih jauh dari kondisi pra-Covid-19, yakni 55-70 persen.

"Statistik penumpang kereta api di Pulau Jawa juga menunjukkan masih sangat rendahnya mobilitas penduduk antar-wilayah," papar Adrian.

Mengenai konsumsi domestik, retail sales index di kuartal III 2020 sudah tumbuh sedikit lebih tinggi dibanding levelnya pada kuartal II/2020. Hal ini menunjukkan kesan positif dinamika konsumsi masyarakat.

Namun, ada pula indikator yang memberikan gambaran bahwa kontraksi dalam konsumsi rumah tangga masih cukup dalam.

Ini terlihat dari naiknya angka kemiskinan, deflasi yang terjadi sepanjang kuartal III 2020, menurunnya nilai impor barang konsumsi terus-menerus, dan semakin kuatnya tendensi pergeseran konsumsi kearah barang yang lebih murah.

Sisi investasi juga demikian. Tingkat penjualan mobil, sepeda motor, mesin, dan semen, masih berada di teritori pertumbuhan negatif, walaupun sudah menunjukkan peningkatan dari titik terendahnya di kuartal II/2020.

Adrian bilang, kapitalisasi bursa disepanjang kuartal III 2020 masih stagnan, aktivitas pembiayaan lewat pasar obligasi korporasi (credit market) masih sunyi, dan pertumbuhan kredit bank masih bergerak turun mencapai 0,1 persen yoy di bulan September 2020.

"Bila indikator-indikator terkait investasi tersebut saya cek silang dengan dinamika di pasar pembiayaan (funding market), saya mendapatkan kesan kuat bahwa investasi memang masih terkontraksi cukup dalam di kuartal III," tutur dia. kbc10

Bagikan artikel ini: