Pelemahan harga minyak mentah penentu surplus neraca perdagangan RI

Kamis, 15 Oktober 2020 | 19:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada bulan lalu dengan nilai US$ 2,44 miliar Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), surplus ini sudah dialami selama lima bulan berturut-turut atau sejak Mei hingga September. Besaran ekspor pada September mencapai US$ 14,01 miliar sementara kinerja impor mencatatkan nilai US$ 11,57 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, kinerja ekspor pada bulan lalu sudah mulai menunjukkan tren pemulihan dengan nilai yang hampir setara dengan tahun lalu. Tercatat, ekspor pada September 2019 mencapai US$ 14,08 miliar.

Artinya, Suhariyanto menuturkan, pertumbuhan ekspor turun tipis, yakni 0,5 persen. "Mudah-mudahan, di bulan berikutnya ekspor kita bisa terus naik," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (15/10/2020).

Ekspor juga mengalami pertumbuhan apabila dibandingkan secara bulanan. Pada Agustus, kinerja ekspor sebesar US$ 13,09 miliar, atau tumbuh 6,97% pada September.Kondisi berbeda terjadi pada impor. Meski mengalami kenaikan 7,71% dibandingkan Agustus 2020, kinerja impor pada bulan lalu masih menyusut 17,94% dibandingkan September 2019. "(Kinerja) impor kita masih (kontraksi) dalam," kata Suhariyanto.

Secara akumulasi, neraca dagang Indonesia pada periode Januari hingga September yang sebesar 13,51 miliar dolar AS juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Sebab, neraca perdagangan pada periode yang sama di tahun lalu mengalami defisit dalam yakni US$ 2,24 miliar.

"Mari kita berupaya bersama supaya ke depan performa dari ekspor makin meningkat sehingga neraca perdagangan terus bagus," ujar Suhariyanto.

Salah satu komoditas yang mempengaruhi secara signifikan terhadap kinerja ekspor dan impor Indonesia tahun ini adalah harga minyak mentah Indonesia (ICP). Pada bulan lalu, nilainya sebesar US$ 37,43 per barel, turun 10% dibandingkan Agustus yang mencapai US $ 41,63 per barel. Kontraksi lebih dalam terjadi jika dibandingkan September 2019, yaitu hingga 38,5%.

Komoditas lain yang berpengaruh adalah minyak kelapa sawit. BPS mencatat, terjadi kenaikan harga komoditas ini dari Agustus ke September sebesar 4,97%. Sedangkan, secara tahunan, pertumbuhannya mencapai 37,5%.

Harga karet juga meningkat secara bulanan 9,07 % dan tahunan 23,9%. "Komoditas lain yang meningkat adalah cokelat, minyak kernel, batubara dan tembaga," ujar Suhariyanto.

Sebaliknya, beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga adalah emas. Perbandingannya pada September terhadap Agustus adalah 2,37%. Tapi, kalau dibandingkan tahun lalu, harga emas September ini masih naik 27,23%.kbc11

Bagikan artikel ini: