Diterjang pandemi, 40 persen pengembang rumah subsidi tumbang

Rabu, 21 Oktober 2020 | 10:33 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 telah menghantam banyak sektor industri di Tanah Air. Tak terkecuali pengembang perumahan. Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) bahkan mencatat sekitar 40 persen pengembang rumah subsidi berguguran akibat dampak pandemi.

Sekjen DPP Apersi Daniel Djumali mengatakan, asosiasi itu beranggotakan 3.000 pengembang yang mayoritas membangun perumahan menengah dan menengah bawah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dalam rangka mendukung program pembangunan sejuta rumah.

Dia tak memungkiri pandemi Covid-19 sangat berdampak pada cashflow para pengembang. Ditambah lagi, untuk rumah subsidi mayoritas pembelian melalui KPR subsidi memiliki aturan hingga 29-34 persyaratan, menyebabkan persetujuan perbankan terhadap KPR subsidi anjlok.

"Ini dampaknya 30 persen hingga 40 persen pengembang perumahan rumah subsidi tumbang dan gugur terkena seleksi alam dan akibat cashflow-nya," ujarnya seperti dikutip, Selasa (20/10/2020).

Selain itu, Covid-19 membuat banyaknya karyawan/tenaga kerja yang tidak bekerja atau bekerja paruh waktu atau karyawan kontrak. Apa lagi saat ini banyak karyawan kontrak atau wiraswasta skala UMKM yang perlu rumah, tapi tidak bisa memperoleh rumah karena karyawan kontrak tidak memenuhi persyaratan perbankan untuk memperoleh KPR khususnya KPR subsidi.

"Oleh karena itu, diperkirakan transaksi sektor properti subsidi atau hunian untuk MBR turun 30 persen hingga 40 persen, sektor properti menengah turun 50 persen sampai 60 persen dan sektor properti kelas atas turun lebih dari 65 persen," tuturnya.

Meski mengalami penurunan 30 persen hingga 40 persen dibandingkan sebelum masa pandemi dan adanya pengembang yang tumbang karena seleksi alamatau kesulitan cashflow, untuk pengembang yang masih bertahan kinerjanya diperkirakan bisa meningkat walaupun untuk sementara tetap masih di bawah capaian penjualan sebelum pandemi.

"Saat ini juga kondisinya banyak masyarakat yang sudah membayar DP (uang muka), tetapi tidak jadi membeli ada sebesar 30 persen sampai 40 persen," ungkap Daniel. kbc10

Bagikan artikel ini: