Pasar otomotif diprediksi baru pulih 4-5 tahun lagi

Sabtu, 24 Oktober 2020 | 15:53 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 telah memporak porandakan banyak sektor industri, termasuk otomotif. Selain karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), melemahnya daya beli masyarakat juga menjadi penyebab anjloknya penjualan otomotif.

Pengamat otomotif Yupito Muntono menuturkan, lesunya penjualan otomotif dirasakan semua pelaku industri, baik mobil roda empat ke atas maupun sepeda motor. Bahkan tahun ini dia memprediksi penjualan otomotif, baik mobil maupun sepeda motor akan terkontraksi sekitar 40 persen.

"Untuk penjualan mobil tahun ini saya memprediksi akan berada di kisaran 500 ribu hingga 600 ribu unit, atau turun 40 persen lebih dibanding realisasi tahun lalu yang di angka 1 juta lebih. Sedangkan penjuaan sepeda motor akan di kisaran 4 jutaan unit," ujar Yupito di Surabaya, Jumat (23/10/2020).

Menurutnya, saat ini para pelaku industri otomotif menghadapi melemahnya daya beli masyarakat, mengingat sebagian besar terkena dampak pandemi Covid-19. Terutama di kota-kota besar yang mengandalkan sektor perdagangan, dan industri, juga pariwisata. Sementara untuk daerah yang mengandalkan penghasilan dari hasil bumi, seperti pertanian, masih cenderung stabil.

"Selain melemahnya daya beli, pengetatan yang dilakukan perusahaan pembiayaan atau leasing juga ikut mempengaruhi tertekannya penjualan otomotif di tengah pandemi. Padahal, sekitar 90 persen penjualan otomotif di Tanah Air adalah secara kredit," jelas Yupito.

Dengan kenyataan seperti ini, ditambah dengan proyeksi wabah Covid-19 yang masih akan menyelimuti dunia dan rencana masuknya vaksin Covid-19 yang baru dipasarkan tahun depan, Yupito memprediksi penjualan otomotif masih akan tertekan di tahun 2021 nanti.

"Meski pun ada pertumbuhan saya memperkirakan tak lebih dari 10 persen di tahun depan. Dan untuk bisa kembali di angka seperti tahun 2019 lalu akan butuh waktu 4-5 tahun lagi," ujarnya.

Untuk itu, dia berharap pemerintah terus memberikan stimulus ke masyarakat, dengan harapan agar daya beli masyarakat tetap ada. Termasuk stimulus kepada pelaku usaha, sehingga sektor perekonomian bisa tetap berjalan dan bertumbuh.

Januari-September anjlok 46,6 persen

Sementara itu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil secara ritel sepanjang Januari hingga September 2020 anjlok 46,6 persen (year on year). Sepanjang 9 bulan tersebut, penjualan mobil di semua brand hanya mencapai 407.396 unit, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 762.390 unit.

Secara month to month, angka penjualan mobil secara ritel pada September 2020 tercatat sebanyak 43.362 unit. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 13,1 persen dibanding bulan Agustus sebanyak 37.655 unit.

Pada penjualan wholesales yaitu pengiriman unit dari pabrik ke dealer, tercatat pada September ada sebanyak 48.554 unit. Angka ini meningkat 23 persen dibanding bulan Agustus sebanyak 37.277 unit. Secara kumulatif dari Januari hingga September, penjualan wholesales anjlok 50,9% secara year on year menjadi hanya 372.046 unit. kbc7

Bagikan artikel ini: