Program SMILE lepaskan petani swadaya dari jerat tengkulak

Kamis, 29 Oktober 2020 | 13:15 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ketua Asosiasi Petani Sawit Pir Indonesia (ASPEKPIR) Riau, Sutoyo mengaku keterlibatannya dalam program SMILE (Smallholder Inclusion for Better Livelihood & Epowerement) menjadikan paradigma pengelolaan lahan kelapa sawit lestari berkelanjutan. Bukan hanya itu, rintangan pemasaran usahanya dari jerat tengkulak.

Program SMILE merupakan aksi kolaborasi Asian Agri besama perusahaan kelapa sawit Kao dan Apical Group. Tujuan program ini diperuntukan membantu petani swadaya dalam meningkatkan produkvitas dan meraih sertifikasi internasional.

Sutoyo, petani yan berasal Klaten, Jawa Tengah ini awalnya mengikuti program transmigrasi ke Riau dan mulai merintis usaha budidaya tanaman kelapa sawit mulai tahun 2006. Sebagai petani swadaya, dia mengaku mengelola lahan sawit secara sederhana.Tidak terkecuali dalam hal pemasaran tandan buah segar (TBS), Suyoto yang juga memimpin Asosiasi Kelompok Tani Anugerah ini awalnya mengelola lahan sawit sebesar 70 hektar (ha) ini tidak memiliki akses pasar. Alhasil, mereka tidak memiliki posisi tawar yang sepadan ketika berhadapan dengan tengkulak.

Prilaku pasar dihadapi Sutoyo dan kawan kawan alami selama delapan tahun hingga di tahun 2014 menjalin kemitraan dengan Asian Agri. "Kami merupakan pengembangan petani plasma. Asian Agri meminta persyarataan diantaranya titik koordinat. Kami membentuk kelompok bernama swatani," ujar Suyoto dalam webinar di Jakarta, Rabu (28/10/2020).

Dengan kemitraan tersebut, Sutoyo pun mengakui petani dapat merawat kebun dilakukan dengan benar. Pasalnya, Asian Agri melakukan monitoring dan pembinaan dalam proses kegiatan budidaya. Suyoto bersama rekan rekannya juga memetik manfaat yakni kelancaran cash flow penjualan TBS dengan harga yang relatif lebih tinggi dari pasar.

Dari hal tersebut, membuat petani swadaya lainnya pun tertarik mengikutinya. Hingga di Januari 2016 , bersama 16 kelompok petani melebur membentuk Kelompok Tani Swadaya Anugerah dengan mengelola lahan perkebunan hingga 750 ha.

Sutoyo mengaku tantangan terbesar adalah merubah pola pikir mengusahakan perkebunan itu harus dalam kelembagaan. Dengan begitu peningkatan produktivitas hasil tanam juga akan lebih mudah diraih.

Melalui pendampingan program SMILE, sambung Sutoyo produksi dari petani swadaya di Indonesia akan berubah. Selain itu, akan membantu menjaga kearifan lokal serta berdampak sosial yang baik di masing-masing lingkungan.

Presiden Apical Group Dato’ Yeo How mengatakan program SMILE ini akan berlangsung selama 11 tahun ini berupaya membangun mata rantai pasok yang ramah lingkungan melalui kerja sama dengan petani swadaya. Kontribusi mereka sudah lebih dari 28% minyak sawit Indonesia. SMILE akan melaksanakan aktivitas sesuai kerangka kerja SPO dan memastikan ketelusuran hingga ke perkebunan kelapa sawit guna membangun rantai pasok yang ramah lingkungan.

"SMILE berupaya mejembatani kesenjangan pengetahuan petani swadaya melalui kemitraan dan memperluas lingkup keberhasilan Asian Agri yang telah membangun kemitraan jangka panjang bersama dengan petani," terangnya.

Negoro Masakazu, perwakilan dari KAO mengatakan peningkatan dan penyediaan peralatan akan dilakukan hingga 2030 dengan tujuan memperoleh RSPO. Setelah memperoleh sertifikasi, petani swadaya akan memperoleh premium minyak sawit bersetifikat rerata 5 persen lebih tinggi dibandingkan minyak sawit non bersertifikat.kbc11

Bagikan artikel ini: