Tiga faktor agar UMKM mampu berdaya saing

Jum'at, 6 November 2020 | 21:14 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Setidaknya terdapat tiga faktor yang harus menjadi fokus penguatan dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pasca terbitnya Undang-undang Cipta Kerja. Yakni, pemberian pelatihan, permodalan, dan insentif lainnya.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia, Muhammad Ikhsan Ingratubun mengatakan secara umum UU Ciptaker telah membuka kesempatan besar bagi pengusaha mikro dan kecil untuk tumbuh pesat. Hanya saja anjut Ikhsan ruang pertumbuhan ini baru dapat maksimal jika pemberdayaan UMKM dan usaha ultra mikro dilakukan simultan dan secara kolaboratif.

"Pertama, harus ada pendidikan dan pelatihan yang makin intens. Setelah itu, penguatan permodalan harus didukung. Kemudian, realisasi penerbitan sertifikat halal gratis. Serta, sekarang sedang diusahakan penerbitan izin BPOM gratis," ujar Ikhsan di Jakarta, Jumat (6/11/2020).

Menurutnya fasilitas-fasilitas tersebut harus dikembangkan terus. Utamanya dalam pemberian akses permodalan yang mudah melalui perbankan atau koperasi, dengan bunga murah dan syarat yang tidak berat. Ikhsan menuturkan UU Ciptaker sudah mengakomodir tiga kebutuhan penting pelaku UMKM yang selama ini kerap menjadi penghalang untuk tumbuh.

Pertama, akomodasi berupa kemudahan mendapat izin berusaha. UU Ciptaker membuat pengurusan izin usaha bagi UMKM hanya melalui pendaftaran di Online Single Submission (OSS). Dengan bermodal KTP dan NPWP, pengusaha mikro dan kecil sudah bisa mendapat Nomor Induk Berusaha (NIB).

"Dengan izin berusaha itu, kami bisa terhubung dengan berbagai macam fasilitas, seperti peluang pendanaan dari perbankan, lembaga non-perbankan, dan akses fasilitas pembinaan pemerintah serta pihak lain," katanya.

Kedua, UU Ciptaker membebaskan biaya pengurusan sertifikasi halal untuk usaha mikro dan kecil. Insentif ini bisa membuat produk-produk UMK, terutama yang berbentuk makanan dan minuman, lebih memiliki daya saing di pasar.

Ketiga, beleid tersebut mengakomodir kebutuhan UMK agar terhubung dengan industri atau perusahaan besar. Pemerintah akan memberi insentif kepada usaha menengah dan besar yang melakukan kemitraan dengan Koperasi atau UMK melalui inovasi, pengembangan produk berorientasi ekspor, penyerapan tenaga kerja, penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, serta penyelenggaraan pendidikan/pelatihan.

Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorinni menambahkan segala kemudahan dan dukungan bagi pengusaha mikro dan kecil di UU Ciptaker harus diawasi benar-benar implementasinya.Hermawati berharap ke depannya ada langkah pembinaan UMKM yang terkonsolidasi agar sinergi pengusaha mikro dan kecil dengan industri besar semakin besar. "Sekarang sudah banyak aturan bisa dipangkas sehingga UMKM bisa naik kelas, dan BKPM atau pemangku kepentingan lain harus bisa membina UMKM agar benar-benar bersinergi dengan perusahaan besar," ujar Hermawati.

Akumandiri juga berharap ada kemudahan syarat dan peluang bagi UMKM untuk mengakses pinjaman permodalan ke bank serta lembaga keuangan lain.Menurutnya jika kemudahan ini makin diperbanyak, jumlah pengusaha mikro dan kecil yang berpeluang naik kelas juga akan membesar.

"Harusnya misal urusan BI Checking, selama ini selalu jadi penyebab pinjaman yang diajukan calon debitur tidak bisa dipenuhi. Kemudian, mereka jadi unbankable.Kami harap nantinya syarat ini bisa diabaikan, paling tidak penilaian kredit tak bisa diberikan hanya untuk calon debitur yang punya catatan kredit macet saja," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: