RI klaim mampu produksi motor listrik 877.000 unit per tahun

Senin, 9 November 2020 | 21:08 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) siap mengimplementasikan percepatan pengembangan kendaraan berbasis listrik. Aktivitas produksi kendaraan ramah lingkungan tersebut mulai didorong untuk ditingkatkan.

Untuk tahap awal, Indonesia akan memproduksi sepeda motor listrik di Tanah Air. Pada 2025, ditargetkan 20% produksi otomotif Indonesia akan berbasis bahan bakar ramah lingkungan.

Plt. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin Restu Yuni Widayati mengatakan sepeda motor listrik paling efisien dari sisi nilai investasi dan tenaga kerja untuk awal pengembangan. Pangsa pasar produk juga relatif cukup besar karena sepeda motor listrik mampu bersaing dengan produk sepeda motor konvensional dari sisi total cost of ownership.

Saat ini, kata Restu sudah 15 industri perakitan sepeda motor listrik yang telah mendapatkan Nomor Identifikasi Kendaraan (NIK) dari Kemenperin. Instrumen tersebut sebagai salah satu syarat suatu perusahaan dapat memproduksi kendaraan bermotor.

"Kapasitas produksi sepeda motor listrik sebesar 877.000 unit per tahun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.429 orang," kata Restu di Jakarta, Senin  (9/11/2020).

Secara bersamaan, lanjut Restu pengembangan kendaraan listrik untuk kendaraan roda empat dan seterusnya juga terus dilakukan. Kemenperin saat ini memacu penerapan teknologi dan peningkatan investasi di sektor otomotif nasional untuk kendaraan berbasis baterai listrik maupun mild hybrid dan strong hybrid.

"Sedikit berbeda dengan industri roda empat atau lebih yang membutuhkan investasi awal yang cukup besar dan tenaga kerja yang cukup banyak, sehingga sampai saat ini hanya PT Mobil Anak Bangsa (MAB) yang telah memiliki fasilitas produksi bis listrik di Indonesia dengan kapasitas produksi 100 unit per bulan atau 1.200 unit per tahun," bebernya 

Adapun pengembangan kendaraan listrik di Indonesia bertujuan untuk mendukung pencapaian target pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% pada 2030. Tujuan lainnya yakni mampu menarik investasi di sektor industri komponen.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Taufiek Bawazier menerangkan pihaknya terus memacu penerapan teknologi dan peningkatan investasi di sektor otomotif nasional. Pengembangan meliputi kendaraan listrik roda dua, tiga, serta roda empat atau lebih yang berbasis baterai listrik maupun mild hybrid dan strong hybrid.

"Saat ini, kami telah merampungkan regulasi terkait peta jalan kendaraan listrik berbasis baterai listrik yang merupakan turunan Perpres 55/2019," kata Taufiek 

Taufiek memaparkan potensi pengembangan kendaraan listrik juga membuka prospek bisnis baru.Kendaraan jenis Internal Combustion Engine (ICE) yang saat ini masih memberikan kontribusi hingga 99 persen terhadap PDB industri otomotif nasional bakal berubah. "Pada 2025 nanti, ditargetkan sebesar 20% produksi otomotif nasional adalah kendaraan listrik seperti hybrid, plug in hybrid, dan mobil EV berbasis baterai," sebutnya.

Menurut Taufiek pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai sejalan dengan animo investasi baterai listrik dan kendaraan listrik yang semakin meningkat di Indonesia. Bahan baku baterai cukup melimpah di Tanah Air yang bisa menjadi tulang punggung dalam upaya pengembangan kendaraan listrik.

Selain itu, pendalaman struktur industri kendaraan listrik telah dipersyaratkan nilai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) hingga 2030 dengan program Incompletely Knock Down (IKD) atau Completely Knock Down (CKD). Langkah ini dipacu untuk mendapatkan nilai tambah yang maksimal di dalam negeri."Secara bertahap kita menguasai baterai listrik, dan produksi kendaraan listrik di dalam negeri," pungkasnya.kbc11.  

Bagikan artikel ini: