Ekspor produk UMKM masih minim, ini kendalanya

Selasa, 10 November 2020 | 11:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah terus mendorong pengembangan sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Meski demikian, untuk menembus pasar ekspor, produk UMKM masih banyak mengalami kendala.

“Masalahnya adalah eksekusinya. Setelah kami dapat pesanan, kemudian bagaimana bikin perjanjian, lalu produksi dan perlindungan hukumnya, belum urusan kepabeanan, pajak, dan lain-lain yang membuat pengusaha ogah ekspor," kata Ketua Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Muhammad Ikhsan Ingratubun dalam keterangan tertulis, Senin (9/11/2020).

Selama ini, menurut dia, hanya ada sedikit pelaku UMKM yang berminat dan mencoba memasarkan produknya ke pasar ekspor lantaran belum adanya pendampingan dari negara terhadap UMKM yang hendak melakukan kegiatan ekspor.

Padahal, Ikhsan melihat para pelaku UMKM sejatinya tidak mengalami kesulitan dalam mencari pemesanan barang dari luar negeri.

Untuk itu, Ikhsan mengatakan sinergi dan kolaborasi pemerintah, swasta dan Badan Usaha Milik Negara harus ditingkatkan agar pemasaran produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bisa meluas dan meningkat nilainya. Hal ini juga menjadi kunci untuk mendorong ekspor produk-produk UMKM ke pasar internasional.

"Pendampingan ekspor itu penting dari pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah di lapangan. Soalnya banyak pengusaha yang sudah dapat order, tapi tidak bisa eksekusi karena masalah itu,” ujar Ikhsan.

Dia menganggap pendampingan UMKM agar lancar menjalani proses ekspor selama ini kurang memadai. Padahal, saat ini sudah banyak kementerian dan lembaga yang memiliki program pendampingan atau pembinaan UMKM. Karena itu, dia berharap pemerintah segera memperbaiki sinergitas dengan berbagai pihak agar bisa memberi pendampingan yang efektif bagi UMKM.

“Dampingilah UMKM saat dapat order hingga pengiriman barang. Dibuatkan pendampingannya ini jadi semacam satgas pendamping ekspor UMKM begitu. Jadi ada tim yang mendampingi di proses hukum, untuk jaga kualitas produk, akses mendapat permodalan, dan lain-lain,” tuturnya.

Senada dengan Ikhsan, Ketua Umum Asosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia alias Akumandiri, Hermawati Setyorinny, menilai negara harus hadir saat permintaan ekspor produk UMKM muncul. Dia berharap berbagai kemudahan bisa diberikan negara bagi UMKM yang hendak mengapalkan produknya ke luar negeri.

Kemudahan yang harus diberikan salah satunya pada aspek permodalan. Menurut Hermawati, pemerintah harus memastikan pencairan pendanaan bagi UMKM tidak dipersulit. Proses dan syarat mendapat pembiayaan yang mudah sangat membantu UMKM agar bisa mengeksekusi pesanan dari negara lain.

“Kalau di UU Ciptaker ada klausul pemberdayaan UKM, di sana disebut pinjaman bisa diperoleh pengusaha mikro dan kecil dengan jaminan kontrak. Misal, ada UKM sudah menjalin kontrak dengan perusahaan besar, nah dia bisa dapat pinjaman dana dengan jaminan kontrak tersebut,” ujar Hermawati.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UMKM terhadap nilai total ekspor Indonesia per 2018 baru mencapai 14,37 persen dengan nilai Rp293,84 triliun. Dari jumlah tersebut, 10,85 persen berasal dari pelaku usaha menengah.

Pemerintah menargetkan ekspor UMKM bisa meningkat hingga 2 kali lipat pada 2024 mendatang. Karena itu, kolaborasi antara K/L dan dunia usaha akan didorong untuk mewujudkan target tersebut. “Kita butuh kreatif kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha dan platform digital agar produk UMKM go global,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, belum lama ini.

Potensi meningkatnya ekspor UMKM, kata dia, terbuka lebar. Khususnya, pasca Amerika Serikat memperpanjang preferensi tarif Generalized System of Preferences (GSP) kepada Indonesia per 30 Oktober lalu. GSP merupakan fasilitas perdagangan berupa pembebasan tarif bea masuk yang diberikan secara unilateral oleh AS kepada negara-negara berkembang sejak 1974.

Duta Besar RI untuk AS Muhammad Lutfi sebelumnya mengungkapkan perpanjangan kebijakan ini membuka peluang produk-produk UKM masuk ke AS. Produk UKM yang cukup diminati warga AS diantaranya kerajinan, pintu kayu, serta perhiasan perak.kbc10

Bagikan artikel ini: