Pemerintah jajaki kerja sama vaksin Covid-19 dengan Pfizer

Rabu, 11 November 2020 | 10:48 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah Indonesia tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah produsen vaksin corona selain Sinovac, termasuk Pfizer. 

Upaya ini, menurut Menteri BUMN Erick Thohir, dilakukan guna menjamin ketersediaan vaksin untuk seluruh masyarakat.

"Kami sejak awal melakukan penjajakan kepada CEPI di mana alhamdulillah kemarin Menteri Kesehatan Terawan dengan UNICEF PBB. Tentu kami melakukan penjajakan dengan pihak-pihak lain, seperti AstraZeneca, Cansino ataupun Pfizer, terus kami jajaki," katanya seperti dilansir beberapa waktu lalu.

Menurut Erick, total 300 juta dosis vaksin yang tersedia pada 2021 belum mencukupi untuk membantu dan menjamin seluruh populasi masyarakat Indonesia.

"Sebagai catatan, dari total vaksin yang kita dapatkan sekitar 300 juta ini, bukan berarti kita sudah menjamin atau secure semuanya untuk seluruh rakyat," ujarnya.

Setiap orang, sambung Erick, membutuhkan dua suntikan vaksin corona. Dengan begitu, 300 juta vaksin baru akan memenuhi kebutuhan 170 juta rakyat.

Bandingkan dengan beberapa negara, seperti Inggris, yang memesan 3 sampai 4 kali lipat dari kebutuhan mereka terhadap vaksin corona.

Apalagi, Jepang yang dikabarkan mendapatkan 100 persen vaksin untuk menutup 100 persen kebutuhan masyarakatnya bersama Pfizer.

"Kalau sampai 70 persen populasi Indonesia bisa terjangkau, kita harapkan pada 2022 atau 2021 nanti, sekitar 30 persen kekurangan vaksin dari total vaksin yang tersedia bisa didapatkan," tandasnya.

Hal yang sama juga dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang menyebut bahwa pemerintah Indonesia akan ikut membeli Vaksin Pfizer yang tengah viral karena diklaim mampu melawan virus corona atau Covid-19. Vaksin itu diproduksi oleh Pfizer, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat.

"Ini disiapkan untuk menjadi bagian berikutnya (dari pengadaan vaksin di dalam negeri), karena masih banyak yang dibahas terkait pengadaan vaksin," ungkap Airlangga.

Kendati begitu, menteri yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar itu belum memberi estimasi kapan sekiranya Indonesia akan membeli vaksin tersebut. Di sisi lain, Airlangga menyatakan Indonesia bakal fokus pada pengadaan vaksin yang sudah berjalan lebih dulu.

Saat ini, pemerintah menunjuk PT Bio Farma (Persero) untuk melakukan uji klinis terhadap vaksin Merah Putih. Itu merupakan hasil pengadaan dari kerja sama dengan Sinovac, perusahaan farmasi asal China.

Pemerintah menargetkan pengadaan dan distribusi vaksin bisa dilakukan mulai akhir tahun ini oleh perusahaan pelat merah itu.

"Indonesia tentunya dari berbagai vaksin itu dipertimbangkan, tapi kami belum memasukkan Pfizer sebagai salah satu (pada saat ini)," katanya.

Sementara Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir juga mengaku belum berencana menjalin kerja sama uji klinis maupun pengadaan Vaksin Pfizer karena ketentuan uji klinis dan pengadaan vaksin saat ini berada di bawah arahan pemerintah melalui Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Sedangkan sampai saat ini, arahan penugasannya masih fokus ke vaksin hasil kerja sama dengan Sinovac.

"Kami belum ada rencana untuk kerja sama vaksin dengan Pfizer, tapi kalau ada permintaan dari pemerintah tentunya kami akan jajaki. Untuk penentuan jenis vaksin itu kewenangan ada di Menkes, jadi kita tunggu saja permintaan dari Menkes," ucap Honesti. kbc10

Bagikan artikel ini: