Produsen cat Avian berniat warnai lantai bursa

Selasa, 17 November 2020 | 08:31 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produsen cat PT Avia Avian (Avian Brands) berencana mencatatkan saham di bursa. Saat ini, perusahaan tengah memantau perkembangan pasar saham dalam negeri guna menentukan waktu yang tepat untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Vice President Director Avia Avian Ruslan Tanoko mengatakan, niatan untuk menjadi perusahaan publik didasarkan pada sejumlah alasan. Pertama, yakni keinginan Avian untuk menjaga keberlangsungan usaha perusahaan hingga puluhan tahun ke depan atau lebih. 

Menurut Ruslan, status sebagai perusahaan terbuka akan membuat pengelolaan bisnis perusahaan menjadi semakin profesional, sehingga keberlangsungan usaha perusahaan menjadi lebih terjamin. Asumsi ini ia peroleh berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan terbuka di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang biasanya bisa beroperasi hingga lebih dari seratus tahun.

Kedua, Avian juga ingin menarik lebih banyak talenta-talenta berbakat untuk bergabung dengan perusahaan. Dalam hal ini, status sebagai perusahaan terbuka diyakini bisa membuat sorotan atau exposure terhadap perusahaan menjadi lebih besar, sehingga kemungkinan menarik minat sumber daya manusia (SDM) berbakat untuk bergabung dengan perusahaan menjadi semakin besar.

Ketiga, perusahaan cat yang juga dikenal melalui cat pelapis anti bocor merek No Drop ini juga ingin mempermudah langkah perusahaan dalam melakukan merger ataupun akuisisi. Maklumlah, Avian ingin memperlebar market share yang telah dikuasai perusahaan dengan cara melakukan merger ataupun akuisisi terhadap perusahaan cat lain. 

Sayangnya, upaya penjajakan akuisisi yang telah dilakukan perusahaan pada beberapa tahun terakhir belum membuahkan hasil. Maklumlah, semangat perusahaan-perusahaan cat yang ada di Indonesia untuk menjaga kepemilikan perusahaan dari pihak luar masih lumayan kuat, sehingga tawaran akuisisi ataupun merger di kalangan perusahaan cat biasanya kurang diminati.

"Sentimental value yang ditinggalkan generasi sebelumnya masih cukup tinggi, sehingga  mereka tidak mau jual karena merasa perusahaannya merupakan peninggalan bapak atau kakek mereka," jelas Ruslan, Senin (16/11/2020).

Pada kondisi demikian, status sebagai perusahaan terbuka menurut dia bisa menjadi solusi untuk memuluskan upaya penjajakan merger atau akuisisi, sebab Avian dapat memberi opsi alternatif dengan menawarkan kepemilikan saham minoritas di Avian kepada perusahaan yang menjadi target merger atau akuisisi. Dengan cara itu, harapannya rasa kepemilikan yang kuat pada perusahaan target merger atau akuisisi bisa dikompensasi.

Selanjutnya, keinginan untuk menggelar IPO juga didasarkan pada antisipasi kebutuhan dana pada jangka panjang. Dalam hal ini, status sebagai perusahaan terbuka dinilai dapat mempermudah perusahaan dalam mencari pendanaan eksternal dari perbankan dengan bunga yang sesuai dengan harapan perusahaan.

"Sekarang kami memang belum butuh (pendanaan eksternal), tapi kalau ke depan kami butuh untuk akuisisi dan lain-lain, kan tentu lebih enak kalau kami sudah IPO,"  ujar Ruslan. kbc10

Bagikan artikel ini: