Media yang bebas dan bertanggungjawab jadi kunci lawan Covid-19

Kamis, 19 November 2020 | 22:10 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kebebasan media sangat diperlukan untuk mewujudkan sebuah demokrasi yang efektif - dan selama pandemi Covid-19, hal ini ternyata juga dapat menekan jumlah korban.

Pertama, media berperan sebagai “pengawas” dari jalannya sebuah pemerintahan --media menganalisa, mengevaluasi, dan menginformasikan kepada publik tentang tugas, tantangan dan langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk mengatasi pandemi.

Untuk memainkan peran ini, media harus diberikan kebebasan agar masyarakat percaya terhadap pemberitaan sebuah media.

Kedua, media mengemban sebuah tanggung jawab publik yang tinggi terhadap kesehatan masyarakat – media bertugas memberikan pesan dan mendukung praktik kesehatan publik yang akan menyelamatkan nyawa.

Ketiga, ketika pada akhirnya vaksin Covid-19 siap didistribusikan guna menyelamatkan nyawa manusia, media harus berusaha dan waspada terhadap informasi yang salah, agar terhindar dari clickbait yang menyesatkan hingga dengan sengaja menyebarkan 'berita palsu' .

Tugas-tugas ini biasanya sulit untuk dilakukan, dan menjadi lebih sulit ditambah dengan adanya pandemi. Tugas  jurnalis membutuhkan mobilitas tinggi, dalam upaya memberikan informasi yang kredibel ke publik jurnalis harus menghadiri sejumlah acara dan mewawancarai narasumber di lapangan serta memverifikasi laporan --hal-hal ini sangat sulit dilakukan saat wilayah berada dalam penguncian (lockdown).

Tantangan lainnya termasuk mengatasi diskriminasi dan stigmatisasi korban Covid-19; menangani masalah sosial baru yang timbul dari pandemi --seperti tantangan ekonomi akibat pengangguran, peningkatan kekerasan dalam rumah tangga yang dilaporkan serta menangani berita palsu dan disinformasi tentang virus dan bagaimana penyebarannya.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins mengatakan, media yang bebas, mandiri dan bertanggung jawab adalah senjata ampuh dalam memerangi Covid-19. "Kebebasan media adalah sumber kehidupan demokrasi dan melindungi hak asasi manusia, dan selama pandemi ini, kebebasan media adalah fondasi penting untuk keberhasilan kampanye kesehatan dan keselamatan publik. Terlepas dari adanya pandemi Covid-19 saat ini, kampanye pemerintah Inggris untuk kebebasan media terus dilanjutkan," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (19/11/2020).

Dikatakannya, Inggris tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan Indonesia untuk mempertahankan kebebasan media dan meningkatkan keselamatan jurnalis.

"Kami berharap dapat segera meluncurkan serangkaian kegiatan Webinar yang akan membahas topik-topik utama seperti, bagaimana media mendukung langkah-langkah kesehatan masyarakat dan peluncuran vaksin, serta bagaimana media bisa memastikan pihak berwenang untuk selalu meningkatkan kualitas kerja dan tanggungjawab mereka untuk melindungi masyarakat dari virus Covid-19," jelas Owen.

Inggris, sebagai pelopor konferensi Kebebasan Media Global pertama di dunia pada tahun lalu, dan menduduki posisi sebagai pemimpin Koalisi Kebebasan Media bersama Kanada, telah menyoroti isu kebebasan media di masa pandemi selama Konferensi Global Kebebasan Media yang diadakan pada 16 November lalu.

Tahun ini pemerintah Kanada dan Botswana menjadi tuan rumah dalam Konferensi Media Global kedua secara virtual. Para menteri dan peserta membahas berbagai masalah termasuk dampak Covid-19 pada kebebasan media dan mendesak pemerintah untuk terus mengambil langkah-langkah untuk menjamin kebebasan media dan keselamatan jurnalis. Para peserta juga meminta pemerintah untuk menahan diri dalam memberlakukan pembatasan yang tidak semestinya dalam perang melawan Covid-19.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengambil bagian dalam acara tersebut dan mengumumkan pemenang Penghargaan Kebebasan Media bersama Inggris-Kanada yang pertama diberikan kepada Asosiasi Jurnalis Belarusia. Asosiasi Jurnalis Belarusia (BAJ) telah bekerja selama 25 tahun, dan merupakan satu-satunya serikat jurnalis independen di negara tersebut.

Terkait penghargaan tersebut, Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengakui, sangat penting bagi jurnalis untuk dapat melaporkan dan menjelaskan apa yang sedang terjadi, di mana pun mereka bekerja di dunia, tanpa merasa takut akan adanya pembalasan, sensor atau hukuman.

"Saya memberikan penghormatan kepada Asosiasi Jurnalis Belarusia atas dedikasinya dalam melaporkan hak asasi manusia dan penipuan yang terjadi saat pemilu ditengah kekerasan, ancaman dan intimidasi. Peran dan kerja mereka yang difokuskan membela kebebasan media akan selalu penting," tandasnya.

Sementara itu Ketua Asosiasi Jurnalis Belarusia, Andrei Bastunets mengatakan, merupakan kehormatan besar bagi Asosiasi Jurnalis Belarusia untuk menerima penghargaan ini.

"Kami menganggap penghargaan ini sebagai penilaian tinggi atas kerja kolega kami, yang setiap hari secara jujur meliput acara di Belarus, mempertaruhkan kebebasan dan kesehatan mereka," ungkapnya.

Saat ini, jurnalis di Belarus harus bekerja di bawah hujan tembakan, secara harfiah, di negara yang damai. Mereka adalah korban kekerasan polisi, dihukum dan ditangkap dalam jangka waktu yang lama karena pekerjaan mereka.

"Kami berterima kasih kepada setiap suara di dunia yang berbicara untuk jurnalis Belarusia hari ini! Ini sangat berarti bagi kolega kami yang sedang dipenjara," pungkas Andrei. kbc10

Bagikan artikel ini: