Permintaan kredit seret, dana mengendap di bank tembus Rp1.200 triliun

Kamis, 26 November 2020 | 12:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Saat ini disinyalir ada Rp1.200 triliun dana kredit yang mengendap di perbankan akibat turunnya permintaan sebagai dampak pandemi Covid-19. 

Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Sunarso dalam webinar Economic Outlook 2021, Rabu (25/11/2020).

Jumlah tersebut mengacu pada rasio pinjaman terhadap simpanan bank atau loan to deposit ratio (LDR) yang pada Oktober ini cukup longgar di level 82,79 persen.

Sedangkan, kata Bos BRI, pada kondisi normal sebelum adanya pandemi, LDR bank berada di level 92 persen. Alhasil, terdapat selisih sekitar 10 persen.

"LDR di perbankan saat ini di level 82 persen, sementara ke ideal itu 92 persen. Artinya ada dana Rp1.200 triliun duit yang tidak tersalurkan dalam bentuk kredit. Itu (Rp1.200 triliun) selisih LDR duit terjebak tidak bisa disalurkan," jelas Sunarso.

Dia menjelaskan, saat ini pertumbuhan kredit baru masih mengalami tekanan akibat dampak pandemi Covid-19. Tercatat, kredit perbankan hanya tumbuh 0,47 persen menjadi Rp 5.480 triliun pada Oktober lalu.

Adapun, penyebabnya ialah masih terganggunya aktivitas bisnis sebagai dampak kebijakan pengetatan aktivitas sosial yang diterapkan di sejumlah daerah. Imbasnya UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional terpukul paling depan.

Kendati demikian, BRI optimistis sektor UMKM mampu pulih lebih cepat ketimbang segmen usaha menengah ataupun korporasi. Sebagaimana sudah teruji terjadi dalam berbagai kondisi sulit ekonomi.

"UMKM itu memang kena duluan. Tapi, ketika pembatasan aktivitas dilonggarkan sedikit cepat pulih, seperti krisis 1998 sampai yang terakhir 2019 akibat perang dagang. Justru kita harus waspada terhadap segmen menengah dan korporasi yang kena belakangan, saya gak yakin lebih cepat pulih" tandasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: