Emdeki optimistis raih laba bersih Rp 43,92 miliar

Jum'at, 27 November 2020 | 08:43 WIB ET

GRESIK - PT Emdeki Utama Tbk, produsen Kalsium Karbida atau karbit memproyeksikan pertumbuhan laba bersih sampai dengan kuartal III tahun 2020 sebesar Rp 43,92 miliar atau tumbuh sebesar 35% dari tahun 2019 sebesar Rp 32,51 miliar.

Direktur Independen Emdeki, Chakravarthi Kilambi menjelaskan, pihaknya optimistis meraih laba yang lebih tinggi 35% dibanding tahun sebelumnya, meskipun volume penjualan sampai akhir tahun diproyeksikan naik tipis sebesar 1,3% yakni sebesar 20.260 ton dari tahun sebelumnya.

“Kami yakin dan optimis, Emdeki meraih laba bersih sebesar Rp43,92 miliar atau naik 35% dari tahun sebelumnya, meskipun dari sisi volume penjualan hanya naik tipis sebesar 1,3%, kata Kilambi dalam paparan publik, Kamis (26/11/2020).

Hal ini, lanjutnya, tak lepas dari kerja keras seluruh jajaran manajemen yang melakukan beberapa strategi, sehingga perseroan masih mampu menjaga stabilitas pertumbuhan dengan cukup baik.

Di antara strategi yang dilakukan seperti efisiensi biaya produksi, memasang kapasitas produksi sebesar 80%, menyediakan stok barang yang tidak banyak, sampai dengan memperkuat pasar dalam negeri.

Sementara itu, Direktur Emdeki, Vincent Secapramana menambahkan, kinerja positif perseroan pada tahun ini dilalui dengan tidak mudah. Pandemi Covid-19 dan kebijakan PSBB yang tahun sebelumnya tidak ada, menjadi tantangan yang dihadapi perseroan. Selain itu berkompetisi dengan karbit impor, serta bahan baku impor lebih mahal akibat beban nilai tukar rupiah terhadap US dolar.

Walaupun banyak kendala yang dihadapi, Vincent melanjutkan, perseroan bersyukur selama pandemi ini selain kinerja tetap dalam tren positif, juga tidak Emdeki tidak melakukan PHK terhadap satupun pekerjanya. Begitu juga hak dari pekerja juga tidak ada pengurangan.

Mengenai ekspansi, perseroan melakukan penelaahan lebih dalam sambil melihat perkembangan ekonomi baik dalam negeri maupun global.

"Ada ekspansi perseroan yang perlu pertimbangan untuk ditunda seperti pabrik Carbide Desulphuriser Tahap II di Cilegon dan diversifikasi usaha dengan pembangunan pabrik Ferro Silica di Gresik. Tetapi pabrik Carbide Desulphuriser Tahap I di Gresik telah selesai September tahun lalu dan telah beroperasi normal,” tutup Vincent.

Bagikan artikel ini: