Pandemi, perusahaan ini justru mampu tingkatkan kualitas produk perhiasan

Selasa, 1 Desember 2020 | 16:20 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan terjadinya pembatasan di sejumlah lini kehidupan masyarakat, tidak terkecuali di perusahaan emas perhiasan PT Nafiri Jaffa Sentosa (NJS).

Akibat keharusan menjaga jarak atau sosial distancing dan physical distancing, maka perusahaan ini juga harus menerapkan sistem kerja Work For Home (WFH) untuk separuh karyawannya. Padahal dengan karyawan yang hanya bisa masuk separuh, maka produksi dipastikan menurun karena produksi emas tidak bisa dilakukan di rumah.

“Yang kita pikirkan itu bukan hanya jajaran manajemen saja, tapi karyawan. Tentang protokol kesehatan sesuai aturan dari pemerintah, seperti apa karyawan waktu kerja itu. Sampai sekarang masih berjalan sesuai peraturan,” ujar Owner NJS, Naomi Julia Soegianto di Surabaya, Selasa (1/12/2020).

Untuk itu, ia berupaya memaknai kondisi tersebut sebagai peluang agar bisa meningkatkan kualitas produksi. Dengan keterbatasan karyawan, ia manfaatkan untuk lebih berkosentrasi memikirkan desain produk yang lebih bagus dan berkualitas.

“Perusahaan kami kan merupakan skala menengah, nah mungkin ini menjadi keunggulan kita untuk bisa maksimal. Walau tingkat produksi kita setengah- setengah, karena karyawan kita masuknya juga 50 persen-50 persen, tetapi dengan kondisi seperti itu, kita bisa lebih tenang. Jalan kita bisa lebih fokus dan maksimal dalam memikirkan desian dan jumlah produksi,” terang Naomi.

Justru ia mengaku, sejak terjadinya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ritme kerja menjadi lebih tenang dan teratur. Sehingga tingkat kinerja menjadi lebih baik dibanding tahun kemaren. “Kondisi tersebut yang kita alami, smooth saja, dan tentunya semua berkat kerjasama semuanya serta bantuan yang di-Atas. Barokah ya istilahnya,” katanya.

Ia mengaku, permintaan emas perhiasan selama pandemi juga cenderung naik karena emas adalah salah satu komoditas investasi yang nilainya cenderung stabil. Masyarakat banyak yang justru berinvestasi emas di saat pandemi hingga nilainya kemudian mengalami lonjakan yang cukup tinggi.

“Kalau di rata-rata, permintaan tahun ini lebih banyak dibanding tahun kemarin. Tetapi jenis permintaan beralih. Kalau sebelumnya banyak yang minta pakai mata atau batunya, tapi sekarang trendnya banyak emasnya, yaitu jenis yang polosan atau tanpa batu. Karena kalau dijual lagi kan sekarang nilainya lebih bagus,” terang perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang semakin matang.

Untuk jenis perhiasan, trend permintaan saat ini adalah cincin, gelang dan liontin. Hal ini berbanding lurus dengan tren berbusana masyarakat saat ini yang banyak menggunakan fesyen syar’i.

Ia mengaku sebenarnya ia lebih suka mengajar dibanding berbisnis emas perhiasan. Tetapi karena tuntutan untuk memperbesar perusahaan keluarga tersebut, ia kemudian mencoba untuk berdamai dengan tetap berkonsentrasi pada peningkatan kualitas dan kinerja NJS.

“Kadang saya juga bingung kenapa bisa membuka perusahaan ini. Tapi setelah jalan, itu juga saya menikmati. Karena bagi kita dalam melakukan sesuatu itu harus maksimal. Apalagi masa pandemi itu kan semua susah dalam menjalankan bisnisnya, tapi semua itu harus dilalui, harus disyukuri. Jadi dari usaha semuanya di perusahaan itu, bersama-sama, kita sekarang merasa comfort atau  nyaman, seperti keluarga. Membangun usaha berbasis kekeluargaan, namun tetap profesional. Itu yang menyenangkan semuanya,” pungkas Naomi. kbc6

Bagikan artikel ini: