Harta terpendam itu berasal dari vitamin A dan E berbasis minyak sawit

Kamis, 10 Desember 2020 | 09:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Pertanian (Mentan) di era pemerintahan Megawati Sukarno Putri ,Bungaran Saragih mengatakan peluang bisnis produksi vitamin A dan E berbasis minyak sawit cukup besar, bukan hanya di dalam negeri. Namun juga luar negeri.

Apalagi, Indonesia merupakan negara penghasil PKO dan CPO terbesar di dunia. Peluang ini harus ditangkap oleh industri dalam negeri.Dilihat dari demand, baik dari dalam negeri dan luar negeri cukup besar. 

Di dalam negeri, kondisi masyarakat Indonesia yang masih banyak mengalami kekurangan gizi (malnutisisi) dan stunting menjadi peluang untuk produksi vitamin A dan E. Apalagi bahan bakunya berasal dari komoditas minyak sawit .

“Kita sudah menghasilkan PKO dan CPO terbesar di dunia. Ini menjadi sumber penghasil vitamin A dan E yang luar biasa. Prospek ada? Masalahnya bagaimana kita menjadikan bisnis. Kalau kita gagal menerjemahkan vitamian A dan E sebagai bisnis, maka kita gagal mengembangkan bisnis tersebut,” kata Bungaran saat webinar Prospek Bisnis Vitamain A dan E Berbasis Minyak Kelapa Sawit di Jakarta, Rabu (9/12/2020).

Meksi demikian, Bungaran mengakui untuk menjadikan minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan E yang berguna untuk kesehatan memerlukan proses panjang yang harus dikuasai industri dalam negeri, terutama mengubah dari minyak sawit. "Prosesnya panjang dan rumit. Ada masalah enginering, sosial, bahkan politik pemerintah. Peran pemerintah sangat penting. Untuk menangkap peluang itu, jangan malu kita bekerjasama dengan asing, terutama dari sisi teknologi," ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabarat mengatakan industri sawit dalam negeri memiliki potensi besar.Namun sayangnya belum digarap secara serius atau secara bisnis.

Rapolo menjelaskan karena membutuhkan teknologi yang canggih dan rumit dan belum ada yang bisa mengolah turunan minyak sawit ini. Nilai investasi yang sangat mahal membuat investor enggan untuk memproduksi beta carotene dan tocopherol.

Dari anggota APOLIN sendiri belum ada yang bisa memproduksi. "Dari anggota kita belum ada yang memproduksi beta carotene dan tocopherol, baru satu yang memproduksi MCT (Medium Chain Triglyceride)," katanya.

Dia meminta kebijakan dari pemerintah untuk memberikan insentif untuk menarik investor dalam maupun luar negeri untuk berinvestasi untuk memproduksi beta carotene dan tocopherol.Rapolo mencontohkan limbah cair kelapa sawit atau POME yang bisa menghasilkan listik dan gas, tandan kosong dapat diproses untuk menghasilkan listrik dan etanol.

Adapun betkaroten dan tocopherol sebagai bahan baku industri makanan dan farmasi."Kelapa sawit atau CPO kita itu 300 ppm saja, maka dalam satu tonnya itu terdapat 0,3 kg per ton. Jika asumsi 45 juta ton cpo kita per tahun, maka ada potensi beta carotene 5.000 ton per tahun. Begitu juga dengan tocophecrolnya, berbagai literatur yang kami cari menyampaikan bawah kadarnya itu antara mencapai 600 sampai 1000 ppm. Dengan 600 maka terdapat 0,6 kg per ton sehingga potensi yang terabaikan itu 27 ribu ton," sambungnya.

Harga beta carotene natural untuk vitamin E di pasar internasional mencapai US$ 350 atau Rp 7.500 per kg, sedangkan beta carotene sintesitis sebesar US$ 250 atau Rp 2.000 per kg. Sedangkan harga tocopherol natural US$ 100 per kg, sedangkan yang sintetis US$ 20-75 per kg.

Rapolo mengatakan market leader di globa supply chain beta carotene tidak satu pun perusahan yang berasal dari Indonesia. Dari 20 perusahaan, semuanya milik asing. "Ada lima besar yang menjadi pemain beta carotene yaitu Netherlands, Germany, Denmark, Amerika Serikat, Lycored Limited (Israel). Begitu juga pemain global untuk Tocopherol tak satupun nama perusahaan di Indonesia dari 16 pemain," ujarnya.

Data Kementerian Pertanian pada 2017 , kontribusi ekspor sawit mencapai US$ 23 miliar  atau 14,83 % terhadap APBN. Tahun 2018 nilai ekspor minyak sawit mencpai US$ 22,08 miliar AS terjadi penurunan karena harga komoditas melemah, sehingga porsi terhadap APBN hanya 13,30 %. Sementara tahun 2019, karena terjadi pelemahana nilai komoditas global nilai ekspor kembali menurun, sehingga nilai ekspor CPO hanya US$ 19,24 miliar atau 11,73 % dari APBN.

Dari sisi volume, ekspor CPO terus mengalami peningkatan. Tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 3,8-3,9 juta ton. Berdasarkan data Oktober 2020, sudah mencapai 3,2 juta ton dengan nilai US$ 26 miliar.

Direkur Plt Direktur Kemitraan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Edi Wibowo mengatakan, sebagai produsen terbesar minyak sawit di dunia, rata-rata ekspor crude palm oil (CPO) per tahun mencapai US$ 21,4 miliar dolar AS. Jumlah itu 14,4 % per tahun dari total ekspor Indonesia. Bahkan pada masa pandemi masih bisa menghasilkan devisa. 

Hingga Agustus 2020 devisa yang terkumpul dari ekspor mencapai US$ 13 miliar di tengah lemahnya penghasilan devisa lain seperti dari migas dan pariwisata.Perkebuan sawit juga menjadi penyumbang membuka lapangan pekerjaan. Dari mulai on farm (kebun) hingga sampai produk akhir total lapangan pekerjaan yang terserap mencapai 4,2 juta tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Sawit juga berkonstribusi pada biodiesel, energi ramah lingkungan.

“Bahkan pencampuran biodiesel dengan minyak solar pada 2020 menjadikan Indonesia pioneer dalam pencampuran atau terbesar di dunia. Ini berdampak mengurangi ketergantungan impor minyak solar,” katanya.

Kepala PUI-PT Nutrasetikal Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB, Elfahmi Yaman mengatakan, minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan E mempunyai keunggulan dalam pemanfaatan di bidang farmasi secara komersial. Bahkan penggunaan dalam bentuk crude material kasar merupakan nilai tambah bagi minyak sawit, karena mengandung beberapa kandungan lain yang bisa memberikan efek farmakologi secara sinergis.

“Karena itu inovasi riset Vitaman A dan E memberikan luaran yang sangat prospektif dalam pemanfaatan Vitamian A dan E dari minyak sawit,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: