Kenaikan cukai di tengah pandemi dinilai tak wajar dan bisa matikan industri

Jum'at, 11 Desember 2020 | 21:51 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Gabungan Perusahaan Rokok  (Gapero) Jawa Timur  menilai keputusan pemerintah menaikkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) Tahun 2021 di masa pandemi Corona Virus Disease (Covud-19) adalah tidak wajar.

Sebagaimana konferensi pers yang digelar oleh Kementerian Keuangan (Kamis, 10 Desember 2020), angka kenaikan tarif rata-rata tertimbang 12,5 persen adalah sangat tinggi. Kenaikan masing-masing layer berkisar antara 13,8 persen sampai dengan 18,4 persen.

“Tidak wajar sebab kinerja industri sedang turun akibat pelemahan daya beli karena ada pandemi dan kenaikan cukai sangat tinggi di tahun 2020 kemarin. Apalagi saat ini angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi masih minus,” terang Ketua Gapero Jatim, Sulami Bahar di Surabaya, Jumat (11/12/2020).

Kenaikan tersebut menyebabkan kenaikan Harga Jual Rokok rata-rata sebesar 20 persen . Tetapi kenaikan tersebut baru dijalankan sebesar rata-rata 13 persen di tahun 2020.

Menurut Sulami, belum selesainya kenaikan harga jual rokok tersebut dikarenakan oleh pandemi Covid-19 yang menurunkan daya beli konsumen sehingga volume produksi rokok turun di tahun 2020.

Kenaikan harga rokok tersebut dan menurunnya daya beli masyarakat tidak hanya mengurangi konsumen tapi juga membuat konsumen membeli rokok dengan harga yang lebih murah dan rokok ilegal. Hal tersebut dibuktikan dengan naiknya kurva rokok ilegal yang tersebar.

Di tahun 2021 cukai rokok dinaikkan lagi sebesar 12,5 persen - 18,5 persen. Hal tersebut jelas menambah memperburuk iklim perdagangan rokok. Anggota asosiasi hanya bisa menerima keputusan pemerintah dan memperkirakan akan bertambah banyaknya pabrik rokok legal yang akan rontok.

"Kenaikan cukai tersebut diperkirakan akan berdampak juga di penyerapan bahan baku tembakau dan cengkeh. Dikarenakan penyerapan bahan baku berbanding lurus dengan produksi pabrik rokok, apabila produksi menurun maka penyerapan bahan baku pasti akan menurun jika dibandingkan dengan tahun 2020," tandasnya.

Sulami membandingkan kenaikan cukai saat ini dengan kondisi normal. Dimana tahun-tahun lalu dalam posisi angka pertumbuhan ekonomi 5 persen dan inflasi 3 persen kenaikan cukai rata-rata 10 persen sudah berdampak pada penurunan produksi IHT sekitar 1 persen.

Gapero Jawa Timur menginformasikan bahwa industri belum mampu menyesuaikan dengan harga jual maksimal akibat kenaikan cukai tahun 2020 sebesar 23 persen dan HJE (Harga Jual Eceran) 35 persen. Harga rokok yang ideal yang harus dibayarkan konsumen pada tahun ini seharusnya naik 20 persen, tetapi baru mencapai sekitar 13 persen . Artinya masih ada 7 persen untuk mencapai dampak kenaikan tarif 2020.

"Gapero Jawa Timur merasa keberatan dengan kenaikan tarif cukai 2021 yang sangat tinggi tersebut. Meski keberatan, industri hasil tembakau menghormati keputusan pemerintah dan menaati kebijakan yang telah dibuat," tegas Sulami.

Gapero Jawa Timur dalam kebijakan cukai 2021 mengapresiasi kebijakan tidak adanya kenaikan cukai pada jenis rokok Sigaret Kretek tangan (SKT). Menurut Sulami, di masa pandemi relaksasi memang lebih dibutuhkan oleh sektor SKT jika dibandingkan dengan SKM dan SPM.kbc6

Bagikan artikel ini: