Perkuat agroindustri, pemerintah sinergikan hulu-hilir pertanian

Jum'at, 11 Desember 2020 | 21:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Pertanian (Kementan) meneken nota kesepahaman atau MoU, sebagai landasan kerja sama mengoptimalkan hasil pertanian nusantara agar bernilai tambah. Serta mampu menopang industri nasional.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim menuturkan MoU bertujuan untuk menyinergikan tugas dan fungsi kedua lembaga dalam mendukung pembangunan serta pengembangan agroindustri. "Industri agro merupakan subsektor industri pengolahan nonmigas yang berperan penting dan strategis dalam perekonomian nasional, sehingga kinerjanya harus dioptimalkan,” kata Rochim di Jakarta, Jumat (11/12/2020).

Ruang lingkup kesepakatan bersama meliputi peningkatan produksi, mutu, nilai tambah, dan daya saing produk pertanian sebagai bahan baku industri. Termasuk peningkatan kompetensi SDM dan jejaring kemitraan usaha pertanian dengan industri. Juga, pertukaran data dan informasi, sinergi regulasi dan standar dalam pengembangan, serta pembangunan agribisnis dan agroindustri.

Selain itu, untuk meningkatkan kinerja sektor industri agro, pihaknya juga membangun langkah strategis. Berupa penguatan kemampuan industri agro secara menyeluruh dengan fokus pada perbaikan sektor hulu pertanian.

Selanjutnya, mendekatkan pertanian dan industri agro kepada teknologi Industri 4.0, meningkatkan efisiensi rantai nilai dengan membangun jaringan cold-chain yang lebih baik, serta meningkatkan produksi industri agro modern dengan inovasi produk yang didukung insentif super deduction tax untuk riset dan pengembangan.

"Kami juga terus berupaya memperkuat daya saing produk industri agro dari segi kualitas, harga, dan kemampuan delivery untuk memenuhi pasar ASEAN dan global, meningkatkan SDM teknis dan teknologi industri agro untuk menguatkan kemampuan produksi nasional di pasar global," katanya.

Ditilik dari kontribusi ekspor, industri agro mempunyai peranan penting dalam nilai pengapalan industri pengolahan nonmigas meski dalam situasi pandemi.Selama Januari-Agustus 2020, total nilai ekspor industri agro mencapai US$29,27 miliar atau 35,36% terhadap ekspor industri pengolahan nonmigas sebesar US$82,76 miliar.

Sedangkan, nilai impor pada periode sama mencapai US$9,87 miliar atau 13% terhadap impor industri pengolahan nonmigas US$75,97 miliar. "Dari nilai tersebut, lebih dari 70% merupakan impor bahan baku dan penolong untuk memenuhi kebutuhan produksi industri agro dalam negeri," sebutnya.

Dia mencontohkan, kebutuhan bahan baku industri susu yang setara susu segar jumlahnya sekitar 4 juta ton. Kebutuhan tersebut baru dapat dapat dipenuhi oleh bahan baku dalam negeri sebesar 20% atau 0,9 juta ton.Sisanya sebanyak 3,1 juta ton atau 80% dalam bentuk skim milk powder, whole milk powder, anhydrous milk fat, butter milk powder, dan whey masih diperoleh melalui impor.

Kemudian, kebutuhan gula berbasis tebu untuk konsumsi maupun industri sekitar 6 juta ton per tahun. Adapun, kemampuan produksi industri gula nasional 2,2 juta ton per tahun yang umumnya digunakan sebagai gula konsumsi.Sehingga, kebutuhan gula industri, baik sebagai bahan baku gula rafinasi maupun industri, sebesar 3,25 juta ton masih diimpor dalam bentuk raw sugar.

Selanjutnya, jenis-jenis industri agro yang masih bergantung pada bahan baku impor antara lain biji kakao 235 ribu ton/tahun, tembakau jenis Virginia, Oriental, dan Burley 131 ribu ton/tahun, gandum 12,3 juta ton/tahun, teh hitam 10,9 ribu ton/tahun, daging 166 ribu ton/tahun, serta buah dan sayuran 40,9 ribu ton/tahun. "Bisa dilihat, masih banyak bahan baku dan penolong industri agro yang diimpor," paparnya.

Pemenuhan Bahan Baku Industri

Ke depan, Rochim berharap kerja sama strategis kedua Kementerian mampu meningkatkan pemenuhan bahan baku industri."Lalu peningkatan nilai tambah di dalam negeri, dan peningkatan daya saing industri nasional, khususnya dalam memasuki pasar ekspor," katanya.

Rochim mengungkapkan kontribusi industri agro merupakan yang terbesar terhadap PDB industri pengolahan non-migas, yaitu 52,13% pada kuartal III/2020.Sedangkan, kontribusinya terhadap industri pengolahan nonmigas terkait sektor pertanian mencapai 43,92%.

Selama periode 2015-2019, pertumbuhan industri agro rata-rata sebesar 6,34%. Angka tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada periode tersebut sebesar 4,69%.

Industri makanan-minuman memiliki rata-rata pertumbuhan lebih tinggi, yaitu sebesar 8,16%. Sepanjang kuartal III/2020, industri makanan-minuman juga tumbuh positif sebesar 0,66%.

“Kami yakin pertumbuhan dan share PDB industri agro dapat ditingkatkan dengan memperbesar pasokan bahan baku dari dalam negeri serta pengendalian bahan baku impor,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: