Cegah karhutla berbasis komunitas pemberdayaan petani

Jum'at, 18 Desember 2020 | 09:15 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Mitigasi partisipatif kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus dilakukan semua pemangku kepentingan. Inisiatif berbasis pemberdayaan dan kemandirian petani menjadi pendekatan PT Minamas Plantation dengan membuka lahan tanpa merusak lingkungan.

CEO Minamas Plantation Shamsuddin Muhammad mengatakan, pihaknya telah menerapkan Zero Burning Policy secara ketat di seluruh area operasional guna menjaga terjadinya kebakaran khususnya pada saat musim kemarau. Perusahaan membangun program Desa Mandiri Cegah Api (DMCA) di Kalimantan Barat dengan menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabidan kepada Masyarakat Universitas Tanjungpura (Untan).

Shamdudin mengatakan, pendekatan jangka panjang yang ditujukan kepada masyarakat di sekitar kebun dan berbagi pengalaman berkaitan pola budidaya dalam manajemen perkebunan berkelanjutan tanpa membakar lahan.

”Kita membentuk program Petani Milenial dan Guru Peduli Api,” ujar Shamsuddin dalam webinar bertema ‘Strategi Multipihak Industri Sawit Dalam Mencegah Karhutla 2021 yang diselenggarakan forwatan di Jakarta, Kamis (17/12/2020).

Program DMCA ini dilaksanakan di setiap desa di sekitar operasional perusahaan. Hingga kini mencapai 34 desa di enam provinsi atau mencukup total are desa binaan lebih dari 161.000 hektare (ha).Adapun Program Guru Peduli Api yang melibatkan setidaknya 662 guru dan kepala sekolah di 60 sekolah di sekitar wilaya operasional perusahaan.

Ketua Prodi Agribisnis Faperta Universitas Tanjungpura Dr Maswadi mengatakan, program yang telah berjalan sejak Juli 2020 ini awalnya, inisiasi DMCA adalah melakukan mitigasi kebakaran dan perambahan hutan dan lahan di sekitar konsesi perusahaan. Namun, perkembangannya , peranan DMCA juga membangun kemandirian social dan ekonomi warga pedesaan melalui kegiatan pertanian dan perikanan yang ramah lingkungan.

Diya, salah satu petani milenial binaan Minamas Plantation di Desa Riam Batu Gading mengatakan dirinya melakukan budidaya sayur hidroponik jenis pakcoy, sawi keriting dan seledri dan sawi manis . Diya menggunakan media botal bekas dan bambu.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Minamas Plantation. Dia pun berharap prgram tersebut bisa direplikasi sebagai role model atau bahkan menjadi centre of excellence  “Saya minta poin-poin hasil diskusi hari ini dapat menjadi pedoman sehingga kesiapan setiap pihak dalam pencegahan Karhutla menjadi lebih optimal,” tuturnya.

Mantan Kasdi Kementan bersama Bappenas sejak satu dekade lalu memberdayakan masyarakat di Kalimantan Tengah untuk berpatisipasi mencegah Karhutla. Di Kabupaten Pulang Pisau misalnya, masyarakat diajak membudidayakan tanaman hortikultura antara lain nanas di sekitar perkebunan.

Selain menjadi sumber mata pencaharian masyarakat, tanaman nenas sebagai tanaman sela juga ikut menurunkan emisi gas rumah kaca. Kementan mengembangkan teknologi menurunkan emisi CO2 melalui proses amelioranisasi dan teknik tata air/pintu air, karakterisasi agroklimat, tanah, dan hidrologi untuk menunjang budidaya karet dan tanaman sela di lahan gambut.

“Kami usulkan ada tindakan preventif dengan  memberdayakan lahan milik petani untuk dikelola. Masyarakat akan menjaga kebunnya sekalaigus hutan maupun lahan di sekitarnya, karena bisa berimbas ke kebun milik mereka,” kata Kasdi.

Kasdi menegaskan strategi yang pemerintah lakukan untuk mengatasi karhutla adalah jangan sampai mengganggu industri sawit. Sebab, saat perkebunan sawit tidak lepas dari pembukaan lahan. “Kami juga berharap perusahaan multinasional sawit bisa memfasilitasi supaya dalam mengelola laghan tidak tebang-bakar, tapi sesuai kaidah yang berlaku,” katanya.

Dalam mengatasi karhutla, Ditjen Perkebunan telah melakukan beberapa upaya. Menurut Kasubdit Gangguan Usaha, DPI dan Pencegahan Kebakaran Ditjen Perkebunan, Iswanto, pemerintah sudah membentuk Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) di daerah rawan kebakaran dan membentuk Brigade Kebakaran Lahan Perkebunan (Karlabun).

“Saat ini sudah 71 brigade yang berada di provinsi dan kabupaten dan 142 KTPA. Kami telah memfasilitasi parasana dan saran bagi Brigade dan KPTA  untuk mengendalikan kebaran kebun dan lahan,” katanya.

Bahkan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, untuk mencegah pembakaran lahan, pemerintah memberikan bantuan kopi liberika pada KPTA. Harapannya dengan bantuan bibit kopi, petani akan menjaga dan merawat lahannya. “Bersama dengan Ditjen PSP kami juga memberikan bantuan traktor roda dua dan empat yang dikelola Brigade Alsintan di kabupaten,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: