Trafik internet di Indonesia melonjak 139 persen selama pandemi

Jum'at, 18 Desember 2020 | 09:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 telah berdampak pada lonjakan dalam aktivitas dan lalu lintas daring. Ini sejalan makin banyaknya penduduk Indonesia yang bekerja, belanja, dan belajar, secara daring.

Hal itu berdasarkan laporan berjudul 'Indonesia: The Challenge of Monetizing in a Fast-Growing Market' oleh perusahaan teknologi Akamai. Laporan itu dibuat dengan mengadakan beberapa wawancara bersama para pemimpin media senior di Indonesia selama periode Mei-Maret 2020.

Berdasarkan data lalu lintas internet Akamai, lalu lintas internet Indonesia mengalami pertumbuhan per tahun sebesar 73% pada kuartal pertama 2020. Lalu melambung ke angka 139% pada kuartal kedua.

Faktanya, pertumbuhan lalu lintas daring melaju makin kencang pada kuartal kedua tahun ini. Kenaikan per kuartal sebesar 46%, jika dibandingkan dengan peningkatan per kuartal sebesar 5% pada 2019.

"Meski responden memang mengharapkan terjadinya koreksi pasar, mereka tidak menduga akan melihatnya secepat ini," kata Matthew Lynn, Regional Sales Director South Asia Akamai, dalam keterangan resminya, Kamis (17/12/2020).

Sekitar 70% responden menyebut monetisasi sebagai prioritas bisnis utama saat mereka berinvestasi pada infrastruktur untuk menciptakan dan mendistribusikan konten kepada audiensi lokal. Di Indonesia, industri OTT yang sedang berkembang sangatlah kompetitif. Untuk memonetisasi bisnis mereka, banyak perusahaan media perlu meningkatkan skala layanan dan memperluas penawaran mereka, untuk memenuhi beragam permintaan pelanggan yang telah mengubah perilaku daringnya menyusul dampak pandemi.

Dengan persaingan untuk memonetisasi dan mendapatkan perhatian pelanggan, sebanyak 70% dari responden memprediksi gerakan menuju model langganan video-on-demand sebagai opsi monetisasi yang lebih berkelanjutan. Walau demikian, beberapa responden memilih pendekatan hibrida, yakni menawarkan konten gratis dengan kualitas video atau pengalaman pengguna terbatas, untuk membuat layanan mereka lebih mudah diakses dan memonetisasi dengan iklan saat pelanggan masih membiasakan diri dengan gagasan membayar untuk langganan konten.

"Memiliki pustaka konten super lengkap dan kolaborasi yang lebih hebat dalam ekosistem media, juga telah diidentifikasi sebagai cara untuk mencapai skala dan melakukan penetrasi pasar," tambah Lynn.

Di sisi lain, keamanan siber tetap menjadi masalah universal di seluruh industri. Semua responden yang diwawancarai menyebutkan peretasan, pencurian identitas, atau pelanggaran data, sebagai kekhawatiran utama.

Pada 2020, situs web video mengalami peningkatan sebesar 208% dalam level serangan. Sedangkan layanan video mengalami peningkatan sebesar 63%.

"Kemudian penyedia siaran televisi mengalami peningkatan sebesar 630%, seiring ledakan media on-demand dalam ruang siaran," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: