Kadin Jatim: Perluasan pasar dan peningkatan SDM kunci perbaikan ekonomi 2021

Sabtu, 19 Desember 2020 | 15:26 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur optimistis target pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 5 persen hingga 6 persen di tahun 2021 bisa terwujud asal dua hal dilakukan, yaitu perluasan pasar dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). 

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto saat acara "Outlook Ekonomi Jatim 2021 di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Jumat (18/12/2021). Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Luar Negeri Kadin Jatim Tommy Kaihatu, Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Kadin Jatim Dedy Suhajadi, Wakil Ketua Umum Bidang UMKM Indris Yahya dan Ketua Komite Tetap Pameran dan Industri Kreatif Kadin Jatim Yusuf Karim Ungsi.

"Perluasan pasar, baik dalam maupun luar negeri  harus dilakukan secara massif agar permintaan meningkat. Terlebih saat ini sebenarnya banyak negara yang masih tiarap karena pandemi Covid-19 dan tidak berproduksi. Ini jadi peluang bagi Indonesia, utamanya Jatim untuk meningkatkan ekspor ke sejumlah negara," tegas Adik Dwi Putranto.

Menurutnya,  perluasan pasar memang menjadi salah satu faktor utama yang bisa menentukan keberhasilan dalam mendongkrak laju kinerja ekonomi tahun depan. Mengingat ganasnya virus Covid-19  telah mengakibatkan melemahnya permintaan pasar sehingga banyak pabrik dan UMKM yang kelabakan. Akibatnya, banyak tenaga kerja yang dirumahkan atau bahkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan baya beli masyarakat melemah. 

Hanya saja, saat ini ada satu kendala yang dihadapi pengusaha dalam memperluas pasar ekspor, yaitu kelangkahan kontainer. Kelangkahan kontainer ini menurut Tommy Kaihatu terjadi karena volume impor Indonesia mengalami penurunan yang cukup besar akibat pandemi sementara laju ekspor masih tetap besar. Sehingga terjadi reposition kontainer yang mengakibatkan biaya distribusi meningkat berkali lipat. 

"Ekspor ke Eropa misalnya, biasanya biayanya hanya sekitar US$ 700 dolar per kontainer, sekarang menjadi US$ 2.570. Nah yang diminta Kadin kepada pemerintah, tolonglah ini disubsidi. Kalau pemerintah memberikan subsidi, volume ekspor ini pasti akan banter. Karena saat ini semua negara pada tidur, belum berproduksi," tegas Tommy. 

Adik kembali menuturkan, sebenarnya Indonesia, khususnya Jatim memiliki potensi untuk bisa bangkit lebih cepat dari krisis akibat pandemi Covid-19. Selain ekspor Indonesia masih tangguh dan hanya mengalami penurunan dalam beberapa bulan saja, investasi yang masuk juga masih cukup bagus. 

"Kita memiliki modal yang cukup besar untuk bisa bangkit lebih cepat. Untuk itu, stimulus yang digelontorkan oleh pemerintah harus terus dikawal agar bisa terserap secara maksimal, mengingat stimulus dampak Covid-19 yang di berikan di tahun ini tidak semuanya bisa terserap sesuai yang diharapkan," ujar Adik.

Bahkan menurutnya, ada dua pos pembiayaan stimulus yang penyerapannya dibawah 50 persen. Pertama insentif usaha hanya terserap Rp 46,4 triliun atau sekitar 38,5 persen dari pagu anggaran sebesar Rp 120,6 triliun. Kedua pembiayaan korporasi hanya terserap Rp 2 triliun atau 3,3 persen dari pagu anggaran Rp 61,2 triliun. 

Disisi lain, ia juga berharap masyarakat yang menerima dana stimulus Covid-19 hendaknya membelanjakannya dengan Arif dan bijaksana. Dana yang didapat harusnya dibelanjakan untuk produk dalam negeri sehingga tujuan pemerintah untuk mengerek kinerja industri dalam negeri dengan peningkatan daya beli masyarakat bisa tercapai.

"Tetapi kenyataannya, banyak masyarakat yang justru membeli produk luar negeri melalui platform online. Ini yang harus diwaspadai karena volume impor akan naik drastis. Apalagi transaksi dalam platform online itu sifatnya B to C atau Business to Consumen," terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Yusuf Karim Ungsi menuturkan, sejauh ini Kadin Jatim telah melakukan perbagai promosi guna memperbesar pasar selama masa pandemi, salah satunya dengan menggelar pameran Indonesian Product (INAPRO) Expo 2020 yang cukup sukses mengangkat potensi daerah. 

"Kesuksesan helatan INAPRO Expo 2020 ini akan kami lanjutkan dengan menggelar INAGRO Expo, yaitu pameran produk pertanian Jatim. Langkah ini kami lakukan dengan melihat besarnya potensi pertanian Jatim, terlebih sektor pertanian ini adalah sektor yang tumbuh positif di saat semua sektor terkontraksi cukup dalam akibat Pandemi Covid-19 pada triwulan II/2020," ujar Yusuf. 

Upaya lain yang sukses mengangkat produk dalam negeri adalah pendirian Rumah Kurasi oleh Kadin Kota Kediri, bekerjasama dengan Bank Indonesia Kediri dan Pemerintah Kota Kediri. Rumah Kurasi adalah sebuah wadah yang dikhususkan untuk melakukan pengecekan kualitas produk UMKM agar bisa menembus pasar ekspor. 

Melalui rumah Kurasi tersebut, Kadin Kota Kediri, telah bekerjasama dengan Diaspora di sejumlah negara, diantaranya di Australia, Belanda, Qatar, Laos dan Amerika Serikat. Kontrak juga telah ditandatangani dengan salah satu perusahaan Australia untuk pembelian produk UMKM senilai US$ 500 ribu  dan akan bisa dikembangkan hingga US$ 2 juta.

Terkait peningkatan SDM, baik Adik maupun menegaskan bahwa hal itu menjadi keniscayaan agar kinerja industri semakin membaik dan daya saing menjadi semakin tinggi. Dalam hal ini, Kadin Jatim telah berkomitmen menerapkan pendidikan vokasi sistem ganda sejak empat tahun yang lalu di sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bekerjasama dengan IHK Trier Jerman, Kadin Jatim melalui Kadin Institute berupaya mencetak pelatih tempat kerja. 

"Ini penting agar siswa yang magang di industri tidak hanya disuruh foto copy atau membuat minum. Tetapi mereka diajari sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Sehingga setelah lulus siswa tersebut siap kerja dan bisa langsung bekerja," ujarnya. 

Kadin Institute juga terus menyosialisasikan pentingnya sertifikasi profesi dan menfasilitasi seluruh masyarakat yang ingin mendapatkan sertifikat keahlian. Atas tujuan tersebut, Kadin Institute telah bekerjasama dengan pelbagai lembaga pendidikan baik SMK maupun Perguruan Tinggi dan Asosiasi Pengusaha Indonesia  (Apindo) Jatim.

"Ini harus dilakukan semua pihak sebab ada keluhan dari dunia industri kesulitan mencari tenaga kerja karena tidak sesuai dengan kebutuhan. Melalui penerapan pendidikan sistem ganda, kami berharap persoalan tersebut akan terselesaikan. Karena industri memerlukan tenaga kerja yang betul-betul kompeten," tandasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: