Tiga fintech P2P lending ini dukung inklusi keuangan dorong pemulihan ekonomi

Rabu, 23 Desember 2020 | 10:49 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DKNI) pada tahun 201 lalu menargetkan 75 persen inklusi keuangan. Namun, hingga saat ini target yang baru tercapai hanya menyentuh angka 49 persen. Inklusi keuangan ditargetkan untuk menyasar masyarakat yang berada di piramida ekonomi terbawah dengan hadirnya finansial teknologi (fintech) diharapkan dapat menjadi alternatif solusi untuk membantu mencapai target inklusi keuangan tersebut.

Komitmen untuk mendorong inklusi keuangan di tengah pandemi global yang saat ini dialami banyak negara termasuk Indonesia diwujudkan tiga platform fintech P2P lending terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni PT Gerakan Digital Akselerasi Indonesia (PinjamKan), PT Mikro Kapital Indonesia (Mikro Kapital) dan PT Prima Fintech Indonesia (Teman Prima).

Melalui talkshow bersama mahasiswa Universitas Batanghari pada Senin (21/12/2020) secara daring melalui aplikasi komunikasi video, ketiga fintech P2P lending ini mengenalkan industri fintech peer-to-peer lending serta pemahaman inovasi yang dilakukan fintech untuk tetap mendorong inklusi keuangan selama masa pandemi.

CoFounder & COO PinjamKan, Anrian Tamba melalui keterangan tertulis, Rabu (23/12/2020) mengatakan, pihaknya sangat berharap adanya kehadiran industri fintech P2P lending mampu meningkatkan pengetahuan terkait layanan keuangan berbasis digital dan membuka akses finansial ke seluruh lapisan masyarakat melalui model bisnis fintech lending.

Data OJK terkait bisnis pinjaman fintech peer to peer (P2P) lending telah mencapai Rp 128,7 triliun hingga kuartal III 2020, nilai itu tumbuh dari posisi tahun lalu hanya Rp 44,8 triliun. Hal ini membuktikan bahwa industri P2P lending turut mendorong dan menggerakkan perekonomian negara seiring dengan pertumbuhannya yang signifikan.

Kenaikan pesat penyaluran pinjaman P2P lending ini tak lepas dari peningkatan jumlah akun peminjam (borrower) dan pemberi pinjaman (lender), dengan pengguna aktif rentang usia produktif 19-34 tahun. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berharap stakeholders terkait mampu menjaga tren pertumbuhan positif ini, sehingga industri fintech P2P lending ke depan terus bisa berinovasi dalam memberikan layanan keuangan terhadap masyarakat.

“Dengan adanya edukasi daring ini, kami juga berharap masyarakat Jambi dapat memanfaatkan layanan produk P2P lending untuk kebutuhan dalam menghadapi masa pandemi dan tetap waspada terhadap fintech ilegal," kata Jeky Sandra, Business Development Manager Mikro Kapital.

Operational & PR Manager Teman Prima, Arif Lukman Hakim menegaskan bahwa saat ini satgas waspada investasi OJK sudah menutup 126 platform fintech lending ilegal per September 2020 karena maraknya tawaran pinjaman online selama masa pandemi.

Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa Universitas Batanghari ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat antusisas menyambut kehadiran berbagai inovasi produk dalam bidang keuangan digital untuk memenuhi kebutuhan dimasa pandemi serta mencapai target inklusi keuangan. kbc7

Bagikan artikel ini: