Harga emas diramal masih kinclong tahun ini

Selasa, 5 Januari 2021 | 12:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Harga emas dan perak diprediksi bisa terus berlanjut hingga tahun ini. Sepanjang 2020, harga kedua logam mulia tersebut terus mengalami penguatan bahkan sempat mencapai level tertingginya yang disebabkan pandemi Covid-19.

Para analis percaya penguatan yang sama bakal terulang di tahun ini. Bahkan, bisa saja membawa rekor baru dari yang sudah pernah dicapai di 2020.

"Mereka berdua (emas dan perak) cukup bagus di sini. Kami benar-benar membutuhkan sedikit lebih banyak sisi atas di keduanya untuk memastikan bahwa itu menyalakan kembali tren kenaikannya," ujar Kepala Strategi Pasar di Miller Tabak, Matt Maley seperti dikutip Senin (4/1/2021).

Sebenarnya, menurut Maley, harga emas dan perak sempat memperlihatkan pergerakan turun pada Agustus dan September lalu. Terutama perak bahkan menyentuh di bawah garis trennya, yang bisa saja makin merosot dan kembali ke level terendahnya di Maret lalu.

"Itu sangat membuatku khawatir. Saya pikir, ýa ampun, ini akan menjadi masalah untuk perak'. Tapi kemudian, alih-alih mencetak lower low, perak bertahan dan membuat double bottom. Itu bullish," katanya.

Hal ini mendorong perak mencapai level tertinggi barunya di atas puncak November, tanda lain bullish buat perak.

"Sekarang, itu (perak) sedikit di atas garis tren, tetapi perlu bergerak sedikit lebih tinggi untuk mengkonfirmasi bahwa itu (perak) bisa membalikkan trennya. Itu semakin dekat. Jadi, banyak potensi bullish di sana," sambungnya.

Emas, di sisi lain, sambung Maley tetap berada di tren miring ke bawah. "Emas menabrak garis teratas saluran trennya di US$1.900. Jadi jika bisa tembus di atas itu, maka akan menjadi bullish," katanya.

"Level 1.950 itu yang saya cari untuk mengonfirmasi bahwa kita akan kembali ke bias naik dalam emas. Jadi, sekali lagi, keduanya memiliki banyak potensi, tetapi kami membutuhkan sedikit lebih banyak keuntungan sebelum kami benar-benar dapat menaikkan bendera hijau lagi pada kedua komoditas tersebut," tambahnya.

Sedangkan, menurut analis lainnya yaitu Pendiri dan CEO New Street Advisors Group, Delano Saporu, harga kedua komoditas tersebut bakal berada di posisi bertahan namun memang dalam jangka panjang ada potensi bullish. "Ada sedikit kemunduran dan ada spekulasi," kata Saporu.

Kemunduran disebabkan oleh peralihan investasi dari aset safe haven ke mata uang kripto. "Ada beberapa orang yang berpikir mungkin bakal ada aliran keluar dari logam mulia ke mata uang kripto, yang sedikit menguat selama beberapa bulan terakhir," sambungnya.

Tren ke mata uang kripto itu bisa terus terjadi sepanjang 2021 ini. Namun, diyakini investor tetap mempertahankan portofolionya pada logam mulia.

"Kami melihat momentum besar bergeser ke cryptocurrency. Saya pikir tren itu berlanjut saat Anda melihat lebih banyak adopsi, jadi, itulah yang ingin kami lakukan terkait logam mulia," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: