Kedelai impor langka, pemerintah diminta fokus genjot produktivitas

Selasa, 5 Januari 2021 | 19:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kelangkaan kedelai impor seharusnya menjadi lampu merah bagi pemerintah untuk fokus meningkatkan produktivitas dan kualitas kedelai nasional.

Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan selama ini petani kedelai nasional dihadapkan pada berbagai persoalan yang membuat kedelai produksi mereka tidak bisa terserap pasar secara maksimal. Sejumlah hal yang membuat penyerapan kedelai nasional tidak maksimal adalah kualitas dan harga yang tidak bisa bersaing dengan kedelai impor. Peningkatan produktivitas diakuinya penting untuk diusahakan.

Indonesia adalah negara dengan konsumsi kedelai terbesar di dunia setelah China. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor kedelai Indonesia sepanjang semester I/2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai US$510,2 juta (sekitar Rp7,52 triliun). Sebanyak 1,14 juta ton diantaranya berasal dari Amerika Serikat.

Sementara itu jika dilihat pada tahun-tahun sebelumnya, total impor kedelai mencapai 2,67 juta ton pada 2017, 2,58 juta ton pada 2018, dan 2,67 juta ton pada 2019. "Impor sebenarnya dibutuhkan karena ada kesenjangan antara kebutuhan dengan ketersediaan. Selain itu, kedelai nasional juga sulit terserap karena tidak mampu bersaing dengan kedelai impor yang lebih berkualitas baik dengan harga lebih murah," ujar Felippa di Jakarta, Selasa (5/1/2021).

Di samping problem produktivitas, dia menyatakan faktor harga jual di tingkat petani dinilai berpengaruh besar terhadap pengembangan kedelai lokal. Tidak jarang petani kedelai memilih menanam komoditas lain. Menurutnya ada beberapa hal yang memengaruhi rendahnya produktivitas kedelai nasional.

Pertama adalah faktor iklim karena kedelai adalah tanaman yang sebenarnya merupakan tanaman sub-tropis sehingga pertumbuhan di daerah tropis seperti Indonesia menjadi tidak maksimal. Usaha produksi kedelai di Indonesia diakuinya harus menyesuaikan dengan pola dan rotasi tanam. Hal ini disebabkan karena petani belum menilai kedelai sebagai tanaman utama.

Felippa mengatakan kedelai adalah jenis tanaman yang membutuhkan kelembaban tanah yang cukup dan suhu yang relatif tinggi untuk pertumbuhan yang optimal.Sementara itu di Indonesia, curah hujan yang tinggi pada musim hujan sering berakibat tanah menjadi jenuh air.

Drainase yang buruk juga menyebabkan tanah juga menjadi kurang ideal untuk pertumbuhan kedelai. "Tentu saja meningkatkan produktivitas bukanlah hal mudah, oleh karena diperlukan pembinaan dan pendampingan bagi petani kedelai, serta investasi. Dengan pembinaan yang intensif maka produktivitas yang lebih tinggi meningkat. Pembinaan dapat dilakukan, antara lain dengan penggunaan benih, pupuk dan sarana produksi lain yang tepat. Pembinaan juga dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak swasta," jelasnya.

Satu hal lagi yang harus diperhatikan adalah penggunaan lahan yang hanya diperuntukkan untuk kedelai. Hal ini dikarenakan usaha produksi kedelai di Indonesia dilakukan pada musim tanam yang tidak selalu ideal untuk pertumbuhan tanaman karena harus menyesuaikan dengan pola dan rotasi tanam.

Saat ini, kedelai masih diposisikan sebagai tanaman penyelang atau selingan bagi tanaman utama padi, jagung, tebu, tembakau, bawang merah atau tanaman lainnya.kbc11

Bagikan artikel ini: