Di tengah pandemi, pinjaman fintech tumbuh 96,19% jadi Rp146,25 triliun

Rabu, 6 Januari 2021 | 15:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Di tengah pandemi Covid-19, bisnis industri fintech peer to peer (P2P) lending masih menunjukkan kinerja positif di hampir sepanjang tahun lalu. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat akumulasi pinjaman online di Tanah Air mencapai Rp 146,25 triliun hingga November 2020. Nilai itu tumbuh 96,19% yoy dibandingkan posisi November 2019 yang sebanyak Rp 74,54 triliun.

"Fintech P2P lending November 2020 mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp14,10 triliun atau tumbuh sebesar 15,7% yoy (dari Rp 12,18 triliun per November 2019)," demikian dikutip dari publikasi OJK pada Selasa (5/1/2021).

Pengguna fintech lending semakin bertumbuh terlihat dengan meningkatnya jumlah peminjam (borrower) maupun pemberi pinjaman (lender) di tengah pandemi. Akumulasi rekening borrower tumbuh 136,33% yoy menjadi 40,75 juta entitas. Dimana 67,35% merupakan kaum milenial.

Sedangkan akumulasi rekening lender naik 19,26% yoy menjadi Rp 705.643 entitas hingga sebelas bulan pertama 2020. Pemberi pinjaman juga didominasi kaum milenial yang menyumbang sebanyak 66,30%.

Hingga November 2020, terdapat 153 penyelenggara fintech lending yang terdaftar di OJK. Sebanyak 36 diantaranya telah mengantongi izin usaha penuh dari regulator. Sedangkan 10 dari penyelenggara menjalankan bisnis dengan prinsip syariah.

Sebelumnya, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyatakan pada tahun depan pinjaman fintech lending setidaknya mencapai angka Rp 86 triliun. "Ternyata memang cepat sekali adaptasi dari machine learning atau credit scoring, sehingga kesiapan untuk tumbuh kembali itu sudah terlihat di Oktober 2020," ujar Direktur Eksekutif AFPI Kuseryansyah belum lama ini.

Sebenarnya, pada 2020, AFPI memproyeksi pinjaman fintech lending bisa mencapai nilai Rp 86 triliun. Namun pandemi memberikan dampak pada perekonomian, sehingga asosiasi merevisi proyeksi menjadi Rp 60 triliun.

"Nah kami yakin di 2021, angka Rp 86 triliun itu adalah angka minimal yang bisa kami salurkan. Tentu saja dengan sangat membandingkan aspek manajemen risiko, perlindungan konsumen dan lain-lain. Jadi itu angka yang sangat realistis untuk dicapai pada 2021," jelasnya.

Asosiasi semakin optimis, lantaran beberapa fintech lending ikut dilibatkan menjadi mitra perbankan dalam menyalurkan dana pada program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Kuseryansyah menyebut sudah ada enam platform yang ikut dalam program itu.

"Saya yakin ke depan akan lebih banyak yang ikut program ini karena ada yang sedang berproses dengan bank. Kami juga sudah membicarakan dengan komite PEN terkait keikutsertaan fintech lending lebih aktif dan bisa membantu akselerasi program PEN," paparnya. kbc10

Bagikan artikel ini: