Pemulihan rapuh, Bank Dunia taksir ekonomi RI tahun ini tumbuh 4,4 persen

Kamis, 7 Januari 2021 | 09:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Dunia merilis laporan terbaru berjudul Global Economic Prospects terkait pertumbuhan ekonomi di dunia termasuk Indonesia pada 2021. Produk domestik bruto Tanah Air diprediksi tetap seperti proyeksi sebelumnya.

Laporan terakhir Bank Dunia akhir tahun lalu, ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,4 persen pada 2021 dengan estimasi minus 2,2 persen pada 2020. Adapun laporan terbaru Bank Dunia mencatat proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini tidak akan berubah.

“Aktivitas ekonomi di wilayah tersebut [Asia Timur dan Pasifik] diperkirakan akan tetap di bawah tren pra-pandemi pada akhir 2021, yang mencerminkan kerusakan yang bertahan lama dari guncangan Covid-19. Investasi dan produktivitas diperkirakan akan tetap tertekan dan ketidakpastian kemungkinan akan tetap tinggi,” tulis laporan tersebut seperti dikutip, Rabu (6/1/2021).

Bank Dunia memperkirakan pemulihan ekonomi Indonesia rapuh. Perwujudan sejumlah risiko penurunan dapat menggagalkan pemulihan yang diproyeksikan.

Skenario penurunan akan memburuk apabila peluncuran vaksin tertunda dan pemulihan global lebih lemah. Faktor-faktor tersebut dapat menahan pertumbuhan regional menjadi 5,4 persen dari 7,4 persen pada 2021.

Berbagai negara Asia Timur dan Pasifik memiliki risiko terhadap prospek cenderung turun. Faktornya yaitu, pandemi bisa berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, kerusakan jangka panjang dari resesi tahun lalu bisa lebih dalam dari yang diantisipasi, tekanan neraca bisa meningkat, atau kontraksi dalam perdagangan global bisa lebih tajam atau lebih lama dari yang dibayangkan.

Lebih banyak negara di kawasan tersebut dapat mengalami kesulitan dengan pengadaan dan distribusi vaksin daripada yang diantisipasi saat ini. Meski memasuki pandemi dengan kerangka kebijakan moneter dan fiskal yang relatif kuat, sebagian besar negara diperkirakan menghadapi penurunan substansial dalam posisi fiskal dan peningkatan utang.

“Tingkat utang yang tinggi dapat membebani aktivitas jika tekanan yang merusak mendorong otoritas untuk memperketat kebijakan sebelum waktunya. Sisi baiknya, penyebaran cepat vaksin yang efektif dapat memicu peningkatan yang lebih kuat dari perkiraan di negara-negara ekonomi utama dan permintaan global,” papar laporan Bank Dunia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kondisi perekonomian pada 2021 masih akan menghadapi tantangan berat setelah hampir semua negara di dunia mengalami kontraksi pertumbuhan karena pandemi.

Menurut dia, pemulihan ekonomi pada 2021 tetap dibayangi oleh ancaman stabilitas kesehatan akibat penyebaran Covid-19 meski vaksin telah ditemukan.  

“Kondisi akan dihantui oleh Covid-19, apakah vaksin bisa efektif mengembalikan kegiatan fisik yang menghasilkan kegiatan ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dunia,” ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: