Industri penerbangan bakal sulit terbang tinggi di tahun ini

Jum'at, 8 Januari 2021 | 11:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Harapan kalangan pelaku industri penerbangan untuk bisa bangkit di tahun 2021 tampaknya masih jauh panggang dari api. Pasalnya, industri yang erat dengan konektivitas ini diprediksi baru pulih pada 2024. Pada 2021 ini, banyak beban tanggungan akibat pandemi yang mulai menggelayuti beban maskapai.

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto menuturkan pandemi membuat aktivitas penerbangan domestik semakin parah apalagi rute internasional.

"Pada 2021 beberapa maskapai sudah ada legal dispute sama lessor, ada tunggakan biaya di bandara selama 2020, kami sempat tak terbang sama sekali, dan terbang tapi tidak banyak, jadi tak bisa bayar tunggakan utang, ini jadi pekerjaan rumah maskapai bertahan," katanya, Kamis (7/1/2021).

Selain itu, walaupun ada beberapa usulan stimulus seperti mengurangi biaya bandara sudah dibahas berkali-kali, realisasinya dari pemerintah tetap belum ada. Beberapa maskapai mengalami masalah tenaha kerja dan mau tidak mau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) ataupun merumahkan karyawannya.

"Beberapa maskapai terbang jauh di bawah kondisi normal, secara rasional itu yang dikurangi salah satunya biaya overhead sehingga pemutusan hubungan kerja dilakukan," paparnya.

Dia juga menyayangkan kondisi saat ini, kinerja penerbangan menukik tajam ketika pandemi berlangsung, tetapi ketika 2021 pemulihannya tak secepat penurunannya.

"Dari beberapa kajian ICAO dan IATA penerbangan bisa pulih seperti 2019 itu pada 2024. Pemulihannya saat ini sangat bergantung pada pembatasan pergerakan orang, karena penularannya orang ke orang," jelasnya.

Dia mengharapkan agar penanggulangan penyebaran Covid-19 semakin baik pada 2021 termasuk pemberian vaksin dapat efektif menghilangkan pandemi ini. Saat ini, kunci kesuksesan hanya pada menjaga protokol kesehatan dan vaksinasi.

"Kami di penerbangan jumlah frekuensi dan slot penerbangan disesuaikan, terminal bandara dibatasi di dalam pesawat juga dibatasi 70 persen saat ini. Termasuk pembatasan yang mengagetkan, termasuk SE dari Gubernur Kalbar, yang peraturan berlakunya semua penumpang harus dilakukan PCR atau rapid test antigen," katanya. kbc10

Bagikan artikel ini: