Ini penyebab RI alami ketergantungan impor kedelai

Rabu, 13 Januari 2021 | 19:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) membeberkan penyebab Indonesia harus mengalami ketergantungan impor. Raihan produksi kedelai yang rendah yang disebabkan keengganan petani karena minimnya margin dari usaha budidaya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi menuturkan keuntungan petani jika tanam kedelai hanya Rp 1 juta/hektar. Pun harus menunggu masa tanam selama tiga bulan.

Berbeda dengan keuntungan petani jika tanam jagung dan padi sekitar Rp 4,5juta/hektare (ha). "Keuntungan tanam kedelai cuma Rp1 juta/hektar sangat rendah jauh di bawah padi dan jagung jadi petani lebih pilih tanaman yang untungnya lebih tinggi dan beberapa lebih pilih tanam tebu," kata Suwandi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI yang disiarkan virtual di Jakarta, Rabu (13/1/2021).

Maklumlah, rerata produktivitas kedelai lokal hanya 1,5 ton/ha. Bandingkan dengan produktivitas kedelai yang ditanam petani Amerika Serikat mampu mencapai 4,5 ton/ha.

Kondisi tersebut diperparah dengan harga kedelai dalam negeri yang tidak mampu bersaing dengan gempuran kedelai impor yang tidak dibatasi. "Sudah dibahas di dewan kedelai selama ini non lartas (larangan terbatas), jadi berapapun masuknya, waktunya kan gak ada larangan, tarif (masuknya) pun 0 persen untuk kedelai," kata Suwandi.

Karena itu, pihaknya saat ini tengah menggenjot produksi dalam negeri, langkah tersebut dilakukan untuk mengamankan stoknya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Di tahun ini Kementan sudah mempersiapkan lahan 325.000 ha untuk meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri.

"Dengan tanam 325.000 hektar dengan produktivitas sekitar 1,5 juta ton di bawah potensi memang, karena potensi riset litbang bisa 3,5 juta ton baik itu varietas Rajabasa, Agropuro, Malika, Baluran, Usowei ini yang varietas baru itu yang didorong sehingga bisa memasok produksi 1,5 ton per hektare bisa masuk 500.000 ton sampai panennya bulan sembilan," terang dia.

Lahan seluas 325 ribu hektar itu nantinya akan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, Suwandi menyebut beberapa lahan tersebut akan berada di Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Lampung, Jambi dan Banten. "Kami akan tanam di sentra yang sudah ada," kata dia.

Untuk mendorong produktivitas tersebut Kementan mendapat anggaran dari Kementerian Keuangan sebesar Rp 180 miliar untuk menggarap lahan 125.000 ha.Sementara sisanya, kata Suwandi akan disumbang dari investor, KUR petani dan sisa relokasi anggaran.

"Kita harapkan produktivitas bisa ditingkatkan, selama ini kuncinya ada di benih. Dengan pengawalan ketat jadi tanamnya di lahan kering sebagian tumpang sari dengan jagung kemudian tebu dan juga di tanaman kelapa sawit yang sebelum 4 tahun," terang dia.

Kesempatan sama, Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi menyebutkan volume importasi kedelai tahun 2021 diperkirakan akan mencapai 2,6 juta ton. Pasokan tersebut diimpor khusus untuk kebutuhan produksi tahu dan tempe di dalam negeri.

Agung mengatakan, hingga Maret 2021, total pasokan impor kedelai yang masuk ke Indonesia diperkirakan mencapai 650.000 ton. Selain stok impor, juga tersedia produksi 2020 yang mencapai 411.000 ton serta produksi dalam negeri sebanyak 28.700 ton.

Dengan kata lain, total ketersediaan kedelai di Indonesia periode Januari-Maret 2021 diperkirakan 1,09 juta ton. Adapun kebutuhan kedelai pada waktu yang sama yakni 778.000 ton sehingga terdapat surplus 312.000 ton.

Sementara itu, untuk tingkat harga pemerintah menggandeng sejumlah pemangku kepentingan agar bisa lebih rendah dari tren kenaikan harga saat ini.Agung menerangkan tingkat harga di distributor per November 2020 mencapai Rp 7.500 - Rp 8.000 per kg, Desember 2020 sebesar Rp 8.500, lalu naik lagi pada Januari menjadi Rp 9.200 per kg.

"Tapi kami terus kerja sama dengan para stakeholder dan Satgas Pangan. Solusinya menurunkan harga di distributor Rp 8.500 per kg," kata Agung seraya menambahkan harga kedelai diprediksi akan stabil di bulan Maret mendatang.kbc11

Bagikan artikel ini: